Senin, 06 Desember 2010

KEANEKARAGAMAN DAN SEBARAN JENIS KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DI RESORT GUNUNG PUTRI, TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

KEANEKARAGAMAN DAN SEBARAN JENIS KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DI RESORT GUNUNG PUTRI, TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO


Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta
ABSTRACT
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) is a conservation area which has a diversity of fauna, included butterflies. This study aims to determine the diversity and distribution of butterflies in TNGP. Information about the diversity and distribution is useful to know the condition of ecosystems in TNGP. The results of this research may be useful as information for further research. This research was conducted at 2th till July 3th, 2010 at TNGP by using descriptive method. The results were obtained as many as 131 individuals representing 19 species of butterflies. Average diversity index value was 1,775. This value is included in the criteria are meant TNGP stable environmental conditions. Evenness index average is 0.73 shows that spread evenly and stable individual. Average low dominance index of 0.26 means that there are no dominating type.
Keywords: Butterflies, Distribution, Diversity, Dominance, TNGP.
ABSTRAK
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) merupakan kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman fauna termasuk kupu-kupu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan sebaran kupu-kupu di TNGP. Informasi mengenai keanekaragaman dan sebaran berguna untuk mengetahui kondisi ekosistem di TNGP. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai informasi penelitian selanjutnya. Penelitian ini dilaksanakan pada 2 s.d 3 Juli 2010 di TNGP dengan menggunakan metode deskriptif. Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 131 individu mewakili 19 jenis kupu-kupu. Rata-rata nilai indeks keanekaragaman adalah 1,775. Nilai ini termasuk dalam kriteria sedang artinya kondisi lingkungan TNGP stabil. Rata-rata indeks kemerataan adalah 0,73 menunjukkan bahwa penyebaran setiap individu merata dan stabil. Rata-rata indeks dominansi tergolong rendah sebesar 0,26 artinya tidak terdapat jenis yang mendominasi.
Kata kunci: Dominansi, Keanekaragaman, Kupu-kupu, Sebaran, TNGP.
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kupu-kupu merupakan serangga yang memiliki keindahan warna dan bentuk sayap. Dalam taksonomi, kupu-kupu termasuk ordo Lepidoptera (Rahardjo et al., 2004). Pada umumnya kupu-kupu disebut sebagai serangga diurnal dan berbeda dengan ngengat yang nocturnal. Kupu-kupu merupakan bagian kecil (sekitar 10%) dari 170.000 jenis Lepidoptera yang ada di dunia dan jumlah jenis kupu-kupu yang telah diketahui di seluruh dunia diperkirakan ada sekitar 13.000 jenis, dan mungkin beberapa ribu jenis lagi yang belum dideterminasi ( Peggie 2004).
Keanekaragaman hayati di Indonesia perlu dipertahankan termasuk kupu-kupu. Kupu-kupu memberi andil yang sangat berarti dalam mempertahankan keseimbangan alam dengan bertindak sebagai penyerbuk pada proses pembuahan bunga bersama hewan penyerbuk lainnya (Hamidun 2003). Kehadiran kupu-kupu tidak terlepas dari habitatnya, yakni habitat yang memiliki vegetasi perdu serta sungai yang mengalir. Habitat yang rusak seperti berubahnya fungsi hutan, polusi udara, dan air yang tercemar dapat menyebabkan penurunan jenis kupu-kupu.
Habitat yang baik bagi kupu-kupu dapat ditemukan di Indonesia khususnya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kalinya diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan TNGP sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.
TNGP memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana. Ekosistem sub-montana dicirikan oleh banyaknya pohon-pohon yang besar dan tinggi seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), dan puspa (Schima walliichii). Sedangkan ekosistem sub-alphin dicirikan oleh adanya dataran yang ditumbuhi rumput (Isachne pangerangensis), bunga eidelweis (Anaphalis javanica), violet (Viola pilosa), dan cantigi (Vaccinium varingiaefolium) (Anonim, 2009). Keanekaragaman ekosistem yang ada di TNGP mendukung habitat kupu-kupu.
TNGP ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977 karena memiliki flora dan fauna yang beragam termasuk kupu-kupu. Beberapa jenis kupu-kupu dari suku Papilionidae juga dilindungi oleh undang-undang di Indonesia berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 576/ Kpts/ Um/ 8/ 1980 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 (Noerjito, 2001) dan didaftarkan di appendix II dari CITES (CITES, 2005). Keindahan sayap kupu-kupu yang menarik perhatian orang banyak merupakan potensi ekowisata di alam Indonesia. Oleh karena itu, jenis kupu-kupu perlu dipertahankan keberadaannya di alam selain sebagai penyeimbang ekosistem juga sebagai pendukung sumber ekonomi dengan adanya ekowisata kupu-kupu.
Mengingat pentingnya kupu-kupu di alam dan untuk mengantisipasi kerusakan habitatnya maka perlu diadakan penelitian mengenai jenis kupu-kupu di TNGP. Hasilnya dapat digunakan sebagai informasi keberadaan jenis kupu-kupu di TNGP.
B. Perumusan masalah
Untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka masalah tersebut dirumuskan sebagai berikut :
“Bagaimanakah keanekaragaman dan sebaran jenis kupu-kupu di TNGP?”
C. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman dan sebaran kupu-kupu di TNGP.
METODOLOGI PENELITIAN
1. Lokasi dan Waktu
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 2 s.d 3 Juli 2010 di Resort Gunung Putri, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada jam aktif kupu-kupu yaitu pada pagi hari mulai pukul 08.00-11.00 WIB dan sore hari mulai pukul 13.00-16.00 WIB. Lokasi penelitian berada di dua lokasi, yaitu hutan sekunder dan ladang.
2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu alkohol 70%. Alat yang digunakan yaitu aerial net, kertas papilot, Weathermeter, kamera, alat tulis, siring, lembar pengamatan, buku identifikasi, spidol penanda, jarum pentul, dan spanblok (kotak penyimpanan serangga).
3. Cara Kerja
Cara kerja yang pertama dilakukan adalah menentukan lokasi penelitian, lokasi dibagi menjadi dua yaitu hutan sekunder dan ladang. Kemudian mengukur parameter lingkungan seperti suhu udara, kelembaban, dan kecepatan angin dengan weather meter. Setelah itu, dilakukan pengambilan sampel menggunakan aerial net. Kemudian sampel dimasukkan ke dalam kertas papilot dan disimpan ke dalam spanblok. Waktu pengambilan sampel dilakukan pagi hari mulai pukul 08.00-11.00 WIB dan sore hari mulai pukul 13.00-16.00 WIB. Setelah pengambilan sampel selesai, selanjutnya membuat awetan sampel dengan cara menyuntikan spesimen dengan alkohol 70% menggunakan siring. Setelah dilakukan pengawetan, dilakukan identifikasi kupu-kupu menggunakan buku identifikasi.
HASIL PENGAMATAN
Tabel 1 Jenis Kupu-kupu Di Cagar Resort Gunung Putri, TNGP
Suku
Hutan Sekunder
Ladang
Total
Jenis
Lycaenidae
Heliophorus epicles
-
2
2
Sp.1
1
1
Nymphalidae
Cynthia cardui
-
15
15
Faunis canens
1
-
1
Hypolimnas bolina
2
-
2
Mycalesis sp.1
1
-
1
Mycalesis sudra
4
-
4
Orsotriaena medus
5
-
5
Symbrenthia hypselis
1
-
1
Ypthima nigricans
2
-
2
Ypthima pandocus
2
-
2
Papilionidae
Graphium doson
-
1
1
Graphium sarpedon
6
11
17
Papilio memnon
1
3
4
Papilio sp.
1
1
2
Pieridae
Delias belisama
37
22
59
Delias crithoe
4
2
6
Erodina hypatia
3
-
3
Eurema hecabe
-
3
3
Total
70
61
131
Gambar 1 Diagram Batang Jumlah dan Jenis Kupu-kupu di Hutan Sekunder
Gambar 2 Diagram Batang Jumlah dan Jenis Kupu-kupu di Ladang
Tabel 2 Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener, Kemerataan dan Dominansi Kupu-kupu Pada Masing-masing Lokasi
Hutan Sekunder
Ladang
Rata-rata
Indeks Keanekaragaman (H')
1.81
1.74
1.775
Indeks Kemerataan (E)
0.7
0.76
0.73
Indeks Dominansi (C)
0.3
0.23
0.26
Gambar 3 Perbandingan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener, Kemerataan dan Dominansi Kupu-kupu Pada Masing-masing Lokasi
Tabel 3 Hasil Pengukuran Parameter Fisik pada Lokasi Penelitian
No
Parameter Fisik
Satuan
Lokasi
Hutan Sekunder
Ladang
1
Suhu Udara
oC
25
22
2
Kelembapan
%
66
75
3
Kecepatan Angin
m/s
0
0
PEMBAHASAN
Pada kedua lokasi yaitu di hutan sekunder dan ladang ditemukan sebanyak 131 individu kupu-kupu yang terdiri atas 19 jenis dari 4 suku yaitu Lycaenidae (2 jenis), Nymphalidae (9 jenis), Papilionidae (4 jenis), dan Pieridae (4 jenis). Terdapat 14 jenis kupu-kupu di hutan sekunder yaitu Faunis canens, Graphium sarpedon, Hypolimnas bolina, Mycalesis sp, Mycalesis sudra, Orsotriaena medus, Symbrenthia hypselis, Ypthima nigricans, Ypthima pandocus, Papilio memnon, Papilio sp, Delias belisama, Delias crithoe, dan Erodina hypatia. Di ladang terdapat 10 jenis kupu-kupu yaitu Heliophorus epicles, Sp.1, Cynthia cardui, Graphium doson, Graphium sarpedon, Papilio memnon, Papilio sp, Delias belisama, Delias crithoe, dan Eurema hecabe.
Jenis Delias belisama paling banyak ditemukan di kedua lokasi, hal ini karena jenis ini sangat umum ditemukan di dataran tinggi (Gotts, 2010). Menurut Kashoven (1981) tanaman pakan larva Delias belisama adalah Loranthaceae. Di daratan inilah, tumbuhan inangnya yaitu Loranthaceae berkembang dengan baik. Adanya jenis yang melimpah atau terbatas pada tiap lokasi pengamatan dapat disebabkan daya dukung lingkungan seperti tersedianya tumbuhan pakan bagi larva kupu-kupu jenis tersebut (Yamamoto et al. 2007) serta tersedianya tanaman berbunga yang disukai oleh kupu-kupu. Kupu-kupu menyukai bunga yang beraroma manis dan memiliki bentuk pipih atau dalam, menggantung pada dahan, serta banyak mengandung tepung sari (Sastrodiharjo et al. 2000).
Jenis yang paling sedikit pada kedua lokasi yaitu spesies 1, Faunis canens, Graphium doson, Mycalesis sp.1, dan Symbrenthia hypselis. Hal ini diduga karena waktu yang singkat dan jarak pandang yang sempit pada saat pengamatan.
Jenis paling banyak berasal dari suku Nymphalidae yaitu 9 jenis, kedelapannya ditemukan pada hutan sekunder. Menurut Sitompul (1993) dalam Rosariyanto (1997) menyatakan bahwa hutan sekunder merupakan tempat yang cocok untuk suku Nymphalidae karena matahari dapat menyinari lantai hutan sekitar sungai secara langsung. Keadaan cuaca (cerah atau mendung) juga dapat menentukan jenis kupu-kupu yang dapat ditemukan. Ada kelompok kupu-kupu yang lebih menyukai tempat teduh di bawah semak, salah satunya yaitu Nymphalidae.
Jenis dan jumlah dari suku Lycanidae yang ditemukan sebanyak 2 jenis dan hanya ditemukan pada lokasi ladang. Menurut Peggie (2006) kupu-kupu ini umumnya dijumpai pada hari yang cerah dan di tempat yang terbuka. Oleh sebab itulah jenis dari suku Lycaenidae hanya ditemukan pada lokasi ladang. Jenis-jenis dari suku Lycaenidae umumnya memiliki ukuran yang kecil. Pengamatan dilakukan pada siang hari yang panas sedangkan ukuran tubuh yang kecil menyebabkan jenis dari suku ini tidak tahan terhadap panas yang menyengat. Menurut Novak (1999) kehidupan kupu-kupu di pengaruhi oleh temperatur lingkungannya.
Pada lokasi hutan sekunder memiliki indeks keanekaragaman 1,81. Hal ini menunjukkan kondisi lingkungan masih stabil. Dari indeks kemerataan (E), nilai yang didapatkan yaitu 0,7 yang berarti bahwa penyebaran individu setiap jenis merata dan stabil. Penyebaran jenis berkaitan erat dengan dominansi dimana bila nilai kemerataan rendah mengindikasikan terjadinya dominansi dari jenis-jenis tertentu. Dengan kata lain tidak terdapat kecenderungan adanya jenis yang mendominansi, dapat terlihat dari nilai indeks dominansi (C) pada lokasi ini yaitu 0,3. Merujuk pada kriteria Daget (1976) yang menyatakan 0,00=D=0,50 dominansi rendah, maka secara umum dapat dikatakan bahwa tidak ada tekanan yang cukup berarti dalam komunitas.
Pada lokasi ladang memiliki indeks keanekaragaman sedang, yaitu 1,74. Hal ini menunjukkan kondisi lingkungan stabil. Dari indeks kemerataan (E), nilai tersebut adalah 0,76 yang berarti bahwa penyebaran individu setiap jenis merata dan stabil. Dengan kata lain tidak terdapat kecenderungan adanya jenis yang mendominasi, ini dapat terlihat dari nilai indeks dominansi (C) pada lokasi ini rendah yaitu 0,23.
Berdasarkan gambar 3 dapat dilihat bahwa indeks keanekaragaman dan sebaran keanekaragaman pada kedua lokasi terdapat perbedaan. Hal ini karena lokasi pengambilan data dilakukan pada wilayah yang berbeda yaitu hutan sekunder dan ladang. Hal ini terjadi karena perbedaan struktur vegetasi. Menurut Kurniawan (2000), struktur vegetasi yang beragam pada suatu lokasi dapat menyebabkan kelimpahan jenis kupu-kupu. Tidak seperti ladang yang merupakan daerah monokultur dengan struktur vegetasi di sekitarnya yang seragam sehingga jumlah jenis yang didapat lebih rendah jika dibandingkan dengan hutan sekunder. Untuk kupu-kupu yang dewasa banyak terdapat pada lantai hutan, karena berhubungan erat dengan bahan makanan dan tempat untuk meletakkan telur (Wright, 1989 dalam Samaran, 1998).
Keanekaragaman kupu-kupu sangat bergantung pada faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik tersebut diantaranya ketinggian tempat, suhu, kelembaban, cahaya, pH lingkungan, dan cuaca (Kurniawan 2000). Faktor abiotik mempengaruhi siklus hidup dan kemampuan bertahan hidup serangga (McPheron & Broce 1996). Pada tabel 3 pengukuran faktor fisik pada kedua lokasi terlihat kelimpahan jenis dan individu kupu-kupu tertinggi ditemukan pada suhu udara 25oC, kelembapan 66%, dan kecepatan angin 0 m/s. Pada kondisi tersebut kemungkinan merupakan kondisi yang optimum bagi kupu-kupu untuk melakukan aktivitas harian seperti mencari makanan, mencari pasangan serta oviposisi. Menurut Boonvanno et al (2000) suhu mempengaruhi pertumbuhan tanaman pakan kupu-kupu dewasa sehingga berhubungan dengan jumlah jenis dan individu kupu-kupu. Suhu yang terlalu dingin atau suhu yang terlalu panas kurang disukai kupu-kupu begitu juga dengan kelembapan yang ada.
Secara tidak langsung kelembaban mempengaruhi kualitas tanaman pakan sehingga berpengaruh terhadap penyebaran kupu-kupu serta kemampuan bertahan hidup kupu-kupu dewasa maupun larva (Blau 1980, diacu dalam Hamer et al. 2003). Ketika penelitian dilakukan, terlihat kupu-kupu berhenti melakukan aktivitasnya ketika intensitas cahaya berkurang (mendung) dan kembali terlihat melakukan aktivitasnya ketika intensitas cahaya kembali banyak (cerah). Keanekaragaman kupu-kupu berhubungan dengan intensitas cahaya, dimana semakin tinggi intensitas cahaya, maka keanekaragaman kupu-kupu akan tinggi (Sparrow et al. 1994, diacu dalam Hamer et al. 2003). Menurut Yoris (1994) cahaya yang cukup dibutuhkan kupu-kupu untuk melakukan perkawinan terutama saat terbang. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk melakukan kopulasi.
Berdasarkan hasil analisis yang tertera pada tabel 2, diketahui bahwa indeks keanekaragaman rata-rata di Resort Gunung Putri, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berada pada kisaran 1.775 yang tergolong sedang. Keanekaragaman banyak dipakai untuk mengindikasikan kondisi lingkungan suatu ekosistem. Odum (1971) menyatakan bahwa keanekaragaman identik dengan kestabilan suatu ekosistem, yaitu jika keanekaragaman suatu ekosistem relatif tinggi maka kondisi ekosistem tersebut cenderung stabil. Pada kasus lingkungan ekosistem yang tercemar, keanekaragaman jenis cenderung rendah. Sedangkan indeks kemerataan (E) rata-rata berada pada kisaran 0.73. Nilai E yang mendekati angka 1 mengindikasikan bahwa persebaran jenis merata. Persebaran jenis juga erat kaitannya dengan dominansi, dimana bila nilai E tinggi mengindikasikan tidak adanya dominansi dari jenis-jenis tertentu dan bila nilai E rendah mengindikasikan adanya dominansi dari jenis-jenis tertentu. Ini terlihat dari nilai dominansi rata-rata yang rendah yaitu sebesar 0,26, sehingga tidak adanya jenis yang mendominasi.
KESIMPULAN
1. Terdapat 19 jenis dari 4 suku kupu-kupu yang ditemukan di Resort Gunung Putri, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
2. Keanekaragaman jenis kupu-kupu termasuk sedang dan tergolong stabil.
3. Kemerataan jenis kupu-kupu tergolong tinggi menunjukkan penyebaran jumlah individu setiap jenis merata dan stabil.
4. Dominansi jenis kupu-kupu tergolong rendah menunjukkan tidak terdapat spesies yang mendominasi.
DAFTAR PUSTAKA
CITES. 2005. http://www.redlist.org. (Di unduh pada 19 Juni 2010).
D’Abrera, B. 1990. Butterfly of the Australian Region. Third (Revised) Edition. Hil House, Melbourne and London.
Gotts, Robert dan Pangemanan, Norris. 2010. Mimika butterflies A Guide The Butterflies Of The Mimika Region of Papua. Winmalee: PT Freeport Indonesia.
Hamer KC, Hill JK, Benedick S, Mustaffa N, Sherratt TN, Maryati M, Chey VK. 2003. Ecology of butterflies in natural and selectively logged forests of northern Borneo: the importance of habitat heterogeneity. J Appl Ecol 40: 150–162.
Hamidun.M.S. 2003. Penangkaran Kupu-Kupu Oleh Masyarakat di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. On line at.http://labkonbiodend.blogspot.com/ [Di unduh 19 Juni 2010]
Kalshoven LGE. 1981. Pests of Crops inIndonesia. Laan PA van der, penerjemah.Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie
Morrell, R. 1960. Common Malayan Butterflies. Malaysian Nature Handbook. Longman pp. 64.
Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. W.B. Saunders Company, Philadelphia, London, Toronto. pp. 574.
Peggie D dan Amir. 2006. Practical Guide to the Butterflies of Bogor Botanical Garden Panduan Praktis Kupu-kupu di Kebun Raya Bogor. Cibinong: Bidang zoologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI dan Nagao Natural Environment Foundation, Japan.
Rahardjo, S., H. Haryanto, S. Sugiono, dan G.N.R. Purnayasa, 2004. Monitoring Suksesi Berikut Urutan Dominasi Hama Utama Mete dan Musuh Alami sebagai Dasar Pelaksanaan Pengendalian Hama di NTB. Laporan Penelitian, Universitas Mataram. 52 p.
Sastrodiharjo S, Soesilohadi RCH, Purwatiningsih, Putra RE. 2000. Ruang lingkup dan perkembangan biologi penyerbukan, ulasan tentang serangga penyerbuk. Di dalam: Prosiding Simposium Keanekaragaman Hayati Artropoda. Cipayung, 16-18 Oktober 2000. hlm 25-32.
Setio, P., Yoseph O.L., Hidayat A. 1998. Kajian Habitat dan Perilaku Satwa Langka Irian Jaya (Burung Cendrawasih dan Kupu-kupu Sayap Burung). Ekspose Hasil-hasil Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan Manokwari.
Yamamoto N, Yokoyama J, Kawata M. 2007. Relative resources abundance explains butterfly biodiversity in island communities. PNAS 104: 10524-10529.

1 komentar: