Senin, 06 Desember 2010

Pola Penyebaran Tumbuhan



LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI TUMBUHAN

Pola Penyebaran Tumbuhan

PROGRAM STUDI BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2010
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyebaran tumbuhan, kelulushidupan, pola pertumbuhan serta kecepatan reproduksi semuanya mencerminkan adaptasi tumbuhan tersebut dengan lingkungannya.
Pola-pola penyebaran adalah khas untuk setiap spesies dan jenis habitat. Penyebaran spesies di dalam komunitas dapat mencerminkan informasi yang banyak mengenai hubungan antara spesies.
Namun lingkungan yang berbeda tidak hanya mempengaruhi dan memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi sekaligus merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu.
Secara umum pola penyebaran tumbuhan di alam dapat dikelompokkan kedalam 3 pola, yaitu acak(random),mengelompok(clumped), dan teratur(regular). Tiap-tiap jenis tumbuhan tentunya mempunyai pola penyebaran yang berbeda-beda tergantung pada model reproduksi dan lingkungan mikro (Barbour,1986).
Tumbuhan suku Asteraceae dikaji dari aspek ekologi mempunyai peranan yang penting kaitannya dengan ekosistem yaitu berperan menjaga keseimbangan ekosistem.
Struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara dimana Asteraceae tersebar di dalamnya. Untuk itulah pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pola penyebaran spesies dari suku Asteraceae.
B. Tujuan
1. Mengetahui pola penyebaran spesies tumbuhan Asteraceae.
    1. Mengetahui faktor penyebab pola penyebaran spesies tumbuhan Asteraceae.
TINJAUAN PUSTAKA
Tumbuhan berbagai jenis hidup secara alami di suatu tempat membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk sutu derajat keterpaduan.
Suatu komunitas dapat mengkarakteristikkan suatu unit lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang seragam. Unit lingkungan ini disebut biotop. Biotop ini juga dapat dicirikan oleh unsur organismenya, misalnya padang alng-alang, hutan tusam, hutan cemara, rawa kumpai, dan sebagainya (Santoso, 1994).
Pola adalah distribusi menurut ruang. Data pola penyebaran tumbuhan dapat memberi nilai tambah pada data densitas dari suatu spesies tumbuhan. Pola penyebaran tumbuhan dalam suatu wilayah dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu:
a. Penyebaran secara acak, jarang terdapat di alam. Penyebaran ini biasanya terjadi apabila faktor lingkungan sangat seragam untuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat-sifat untuk berkelompok dari organisme tersebut. Dalam tumbuhan ada bentuk-brntuk organ tertentu yang menunjang untuk terjadinya pengelompokan trmbuhan.
b. Mengelompok
Pola penyebaran mengelompok (Agregated atau undispersed), menunjukan bahwa hadirnya suatu tumbuhan akan memberikan indikasi untuk menemukan tumbuhan yang sejenis. Anggota tumbuhan yang ditemukan lebih banyak ditemukan secara mengelompok dikarenakan ada beberapa alasan :
1) Reproduksi tumbuhan yang menggunakan:
a) ruuner atau rimpang.
b) Reproduksi tumbuhan yang menggunakan biji cenderung jatuh di sekitar induk.
2) Lingkungan /habitat mikro pada tiap spesies yang mempunyai kesamanan pada anggota spesies. Habitat dikatakan homogen pada lingkungan makro, namun pada lingkungan mikro sangat berbeda. Mikrositus yang paling cocok untuk suatu spesies cenderung ditempati lebih padat untuk spsies yang sama.
c. Teratur
Pola penyebaran teratur jika secara reguler dapat ditemui pada perkebunan, agricultur yng lebih diutamakan efektifitas dan efisiensi lahan. Penyebaran secara merata, penyebaran ini umumnya terdapat pada tumbuhan. Penyebaran semacam ini terjadi apabila da persaingan yang kuat antara individu-individu dalam populasi tersebut. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk mendapatkan nutrisi dan ruang.
Dari ketiga kategori ini, rumpunan adalah pola yang paling sering diamati di alam dan merupakan gambaran pertama dari kemenangan keadaan yang disukai lingkungan. Pada tumbuhan, penggerombolan disebabkan oleh reproduksi vegetative, susunan benih local dan fenomena lain dimana benih-benih cenderung tersusun dalam kelompok. Pada hewan tingkat tinggi, agregasi dapat disebabkan oleh pengelompokkan social. Penyebaran seragam serin terjadi di alam baik di antara tumbuhan amaupun hewan. Pola-pola acak adalah umum di antara hewan-hewan tingkat rendah dimana adanya seekor hewan tidak memberikan pengaruh terhadap adanya hewan lain dengan jenis yang sama. Pada tumbuhan, penyebaran acak seperti itu adalah umum di mana penghambuaran benih disebabkan angin.
Pola-pola penyebaran adalah khas untuk setiap spesies dan jenis habitat. Seringkali dilakukan pendeteksian factor-faktor sebab bagi suatu pola penyebaran tertentu. Umumnya, factor-faktor tidak kentara dan sulit untuk ditentukan. Penyebaran spesies di dalam suatu komunitas mencerminkan informasi yang banyak mengenai hubungan antara spesies. Jenis penyebaran mempengaruhi rencana pengambila sampel dan cara analisis data. Perubahan dalam penyebaran harus selalu diperhatikan bersamaan dengan ukuran populasi. Sebagai contoh, ukuran, persaingan, kematian, dan sevagainya dapat mengurangi ukuran populasi dan mengubah pola dari satu agregasi ke pola acak (Michael, 1994).
METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat dan Bahan:
1. Kuadrat ukuran 50x 50 cm
2. Alat tulis dan kalkulator
3. Buku identifikasi tumbuhan
B. Cara kerja:
1. Menentukan lokasi pengamatan
2. Menentukan jenis tanaman yang akan di amati penyebarannya
3. Meletakkan kuadrat secara acak pada lokasi pengamatan
4. Dalam setiap plot,menghitung jumlah individu yang >5 dimasukkan dalam kelompok lebih dari 5
5. Melakukan pengulangan sebanyak 100 plot
6. Melakukan perhitungan data pola penyebaran, menganalisis hasil.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Data Jumlah Individu pada tiap plot
No Plot
Jumlah Individu
No Plot
Jumlah Individu
No Plot
Jumlah Individu
No Plot
Jumlah Individu
No Plot
Jumlah Individu
1
2
21
0
41
0
61
1
81
0
2
0
22
0
42
0
62
0
82
1
3
≥5
23
0
43
2
63
0
83
1
4
1
24
0
44
0
64
0
84
0
5
0
25
0
45
0
65
0
85
1
6
0
26
0
46
0
66
0
86
0
7
1
27
0
47
0
67
0
87
0
8
0
28
0
48
0
68
0
88
0
9
1
29
0
49
0
69
0
89
0
10
0
30
0
50
0
70
0
90
0
11
0
31
0
51
0
71
0
91
0
12
0
32
0
52
0
72
0
92
0
13
1
33
0
53
0
73
0
93
0
14
0
34
0
54
0
74
0
94
0
15
0
35
1
55
0
75
0
95
0
16
0
36
1
56
3
76
0
96
0
17
0
37
0
57
0
77
0
97
0
18
0
38
0
58
0
78
1
98
0
19
0
39
0
59
0
79
1
99
0
20
0
40
0
60
0
80
1
100
0
Tabel 2. Data Jumlah Individu pada Seluruh Plot
Jumlah Individu (X)
0
1
2
3
4
≥5
Total (n)
Jumlah Plot (Y)
83
13
2
1
0
1
100
(X)(Y)
0
13
4
3
0
5
25
Perhitungan nilai rata-rata (µ) :
µ =

µ(0) = = 0
µ(1) = = 0,13
µ(2) = = 0,04
µ(3) = = 0,03
µ(4) = = 0
µ(5) = = 0,05

∑µ = µ(0)+µ(1)+µ(2)+ µ(3)+µ(4)+µ(5)
= 0,25
Tabel 3. Perhitungan Pola Penyebaran Tumbuhan

Jumlah individu (X)
Jumlah plot dengan X individu (Y)
Perkalian jumlah individu dengan jumlah kuadrat (X)(Y)
Harapan jumlah plot dengan X individu (P)
X2 =
0
83
0
77,88
0,336
1
13
13
19,47
2,15
2
2
4
2,43
0,076
3
1
3
0,20
3,2
4
0
0
0,0126
0,0126
5
1
5
0,000633
1577,78

Perhitungan nilai harapan jumlah plot dengan X individu (P) :
P(x) =
Keterangan :
℮ = 2,7183
µ = rata-rata jumlah pertumbuhan
X = jumlah tumbuhan per plot

P(0) = = 77,88
P(1) = = 19,47
P(2) = = 2,43
P(3) = = 0,20
P(4) = = 0,0126
P(≥5) = = 0,000633

Perhitungan nilai X2 (x) :
X2 =

X2 (0) = = 0,336
X2 (1) = = 2,15
X2 (2) = = 0,076
X2 (3) = = 3,2
X2 (4) = = 0,0126
X2 (≥5) = = 1577,78

∑ X2 = X2 (0) + X2 (1) + X2 (2) + X2 (3) + X2 (4) + X2 (≥5)
= 1583,55
X table diketahui 9, 488

Dari data tersebut maka X2 hitung > X2 tabel yaitu 1583,55 > 9,488 maka terima H1 yang artinya tumbuhan Asteraceae yang kami amati persebarannya secara tidak acak. Selanjutnya mencari nilai varians untuk pengujian pola distribusi tidak acak, dengan kriteria sebagai berikut :
Jika > 1, maka tumbuhan berkelompok
Jika <>
V =
V (0) = = 0
V (1) = = 0,11
V (2) = = 0,04
V (3) = = 0,03
V (4) = = 0
V(5)==0,05
V =
= 0,23
Dari perhitungan di atas untuk menguji pola distribusi tidak acak:
= 0,92
Dengan demikian <>

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu berjudul pola penyebaran spesies dari Asteraceae bertujuan untuk mengetahui pola penyebaran dari Asteraceae. Pengambilan data dilakukan di lapangan Velodrome yang terbuka tanpa naungan tanggal 12 November 2010 dengan teknik sampling yaitu metode plot atau metode kuadrat yang berukuran 50 x 50 cm sebanyak 100 kali. Pengamatan area sampling dilakukan dengan penggunakan kuadrat. Kuadrat adalah sembarang bentuk yang diberi batas dalam suatu vegetasi, sehingga penutup seperti densitas dan dominansi dapat diperkirakan ataupun dihitung. Pengamatan dilakukan pada pukul 10.00 dengan kondisi cuaca yang cerah.
Berkaitan dengan nilai frakwensi suatu jenis, Kershaw (1979) dan Crawley (1986) mengemukakan bahwa frekuensi suatu jenis dalam komunitas tertentu besarannya ditentukan oleh metode sampling, ukuran kuadrat, ukura tumbuhan dan distribusi spasialnya. Dalam pengambilan data praktikum ini pemilihan metode kuadrat dan penempatannya telah dilakukan dengan prosedur yang standar sehingga nilai frakuensi yang diperoleh diharapkan benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan. Demikian juga ukuran kuadrat yang digunakan telah ditetapkan melalui penerapan metode kurva jenis area (Setiadi, 1984), sehingga ukuran kuadrat yang digunakan telah sesuai standar yang berlaku.
Tumbuhan yang diamati merupakan salah satu spesies dari suku Asteraceae. Asteraceae merupakan tumbuhan yang mudah dipelihara, tersebar dimana-mana, kebanyakan tumbuh secara liar di halaman, ladang, kebun, dan tepi-tepi jalan. Asteraceae termasuk herba perdu atau tumbuh-tumbuhan memanjat, jarang pohon, dengan daun tersebar atau berhadapan, tunggal (Pujowati, 2006).
Pemanfaatan jumlah individu yang berakar dalam tanah dihitung dalam kuadrat dan merupakan data pengamatan. (observed). Data harapan dihitung dengan rumus Poison yang hanya memerlukan jumlah rata rata tumbuhan per kuadrat. Perbedaan antara data pengamatan dengan data harapan dinalisis dengan chi square.
Analisis dengan menggunakan kuadrat acak ini memerlukan minimal 100 kuadrat yang diletakan secara acak. Ukuran plot disesuikan dengan tipe life form. Spesies dari Asteraceae yang diamati merupakan tumbuhan yang tunggal.
Asumsi sebaran spesies dari Asteraceae yang diamati adalah acak, sehingga Ho: dikatakan sebagai penyebaran tumbuhan acak. Penggunaan rumus poison memerlukan jumlah rerata tumbuhan per juadrat (m), bilangan konstanta e = 2,7183.
Sifat umum penyebaran secara acak adalah bahwa varians (V) sama dengan rata-rata (mean) (m), varians lebih besar dari pada mean menunjukkan penyebaran berkelompok, dan kurang dari pada mean pola seragam (teratur). Jadi dalam penyebaran secara acak: V/m=1. Apabila dalam pengujian uji signifikan, perbandingan varians/mean ditemukan jelas atau nyata lebih besar dari pada 1 , penyebaran berkelompok. Namun apabila hasilnya kurang dari pada satu, penyebaran adalah teratur. Namun apabila tidak berbeda dari 1, penyebaran adalah acak (Samingan, 1980)
Berdasarkan hasil perhitungan yaitu X2 hitung > X2 tabel yaitu 1583,55 > 9,488 maka terima H1 yang artinya tumbuhan Asteraceae yang di amati persebarannya secara tidak acak. Setelah itu mencari nilai varians (V) untuk pengujian pola distribusi tidak acak, hasil yang didapatkan yaitu V/mean=0,23/0,25 dengan hasil 0.992 sehingga lebih kecil dari pada 1 maka penyebaran spesies yang diamati yaitu pola penyebaran tidak acak reguler.
Didapatkan kesimpulan bahwa spesies tumbuhan yang berasal dari Asteraceae memiliki pola penyebaran yang merata atau teratur. Pola penyebaran merata memang umum terdapat pada tumbuhan. Penyebaran ini terjadi karena adanya persaingan kuat antara individu-individu dalam populasi.
Ludwig dan Reynolds (1988) bahwa pola penyebaran tumbuhan dalam suatu komunitas bervariasi dan disebabkan beberapa faktor yang saling berinteraksi antara lain: (i) faktor vektorial (intrinsik), yaitu: faktor lingkungan internal seperti angin, ketersediaan air, dan intensitas cahaya, (ii) faktor kemampuan reproduksi organisme, (iii) faktor sosial yang menyangkut fenologi tumbuhan, (iv) faktor koaktif yang merupakan dampak interaksi intraspesifik, dan (v) faktor stokhastik yang merupakan hasil variasi random beberapa faktor yang berpengaruh.
Adapun jenis tumbuhan bawah yang pola penyebarannya seragam kemungkinan terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena kondisi tempat tumbuhnya relatif seragam, persaingan yang kuat antarindividu anggota populasi terhadap sumberdaya alam, dan persaingan antarindividu tumbuhan yang sejenis (Indriyanto, 2006). Persaingan terjadi karena saling memperebutkan ruang, hara, cahaya, CO2, dan air.
Syafei (1994) menyebutkan bahwa faktor-faktor lingkungan yaitu iklim, edafik (tanah), topografi dan biotik antara satu dengan yang lain sangat berkaitan erat dan sangat menentukan kehadiran suatu jenis tumbuhan di tempat tertentu, namun cukup sulit mencari penyebab terjadinya kaitan yang erat tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahsan di atas maka dapat maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pola penyebaran khas untuk setiap spesies dan jenis habitat.
2. Pola penyebaran spesies dari Asteraceae yang diamati yaitu tidak acak regular (merata).
3. Pola penyebaran merata terjadi karena kondisi tempat tumbuh yang seragam dan persaingan antarindividu yaitu persaingan ruang, hara, cahaya, CO2, dan air.
B. Saran
Untuk pengambilan data mengenai pola penyebaran spesies tumbuhan khususnya Fam.Asteraceae, peneliti harus teliti dalam mengambil dan mengamati sampel. Agar data yang di dapatkan akurat
DAFTAR PUSTAKA
Barbour, G.M., J.K. Busk and W.D. Pitts. 1987. Terrestrial Plant Ecology. New York: The Benyamin/Cummings Publishing Company, Inc.
Indriyanto. 2009. Komposisi Jenis dan Pola Penyebaran Tumbuhan Bawah Pada Komunitas Hutan yang Dikelola Petani di Register 19 Provinsi Lampung. Lampung: UNILA.
Kershaw, K.A. 1979. Quantitatif and Dynamic Plant Ecology. London: Edward Arnold Publishers. Crawley, M.J. 1986. Plant Ecology. Cambridge Center, MA: Blackwell Scientific Publications.
Ludwig, J.A. and J.F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology, a Primer on Methods and Computing. New York: John Wiley and Sons.
Ludwig, J.A. and J.F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology. United States of America
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Pujowati, Penny. 2006. Laporan praktikum tanaman dan system ruang terbuka hijau.Bogor: Sekolah Pasca Srjana IPB.
Samingan, Tjahjono. 1980. Dasar-dasari Ekologi Umum Bagian II. Bogor: Bagian Ekologi Departemen Botani IPB.
Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi Departemen Botani, Fakultas Pertanian, IPB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar