Jumat, 16 Desember 2011

AUTISME


Autisme adalah gangguan perkembangan berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan orang lain. Penyandang Autisme tidak dapat berhubungan dengan orang lai secara berarti, serta kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu karena ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dan untuk mengerti perasaan orang lain.
Penyandang autisme memiliki gangguan pada interaksi social (kesulitan dengan hubungan social, sebagai contoh terlihat aneh dan berbeda dari orang lain), Komunikasi (kesulitan dengan komunikasi verbal maupun non verbal, sebagai contoh tidak mengerti arti dari gerak tubuh, ekspresi muka atau nada/warna suara), Imajinasi (kesulitan dalam bermain, mungkin hanya mencontoh dan mengikuti secara kaku dan berulang-ulang). Pola perilaku repetitive dan resistensi (tidak mudah mengikuti/menyesuaikan) terhadap perubahan rutinitas.

Beberapa ciri-ciri autisme adalah:
1. Mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebayanya.
2. Sering mengalami emosi yang berlebiihan, disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit, dan menghentakkan kaki pada lantai.
3. Selalu menghindar atau tidak mau melakukan kontak mata.
4. Senang menyusun mainan dengan pola berbaris atau membentuk lingkaran.
5. Lebih suka menyendiri.
6. Mengalami kesulitan belajar dengan metode sekolah pada umumnya.
7. Terlihat aktif atau kurang aktif sekali.
8. Mengalami keterlambatan bicara untuk anak seusianya.
9. Mengalami kesulitan mengekspresikan keinginannya dengan menunjukkan sesuatu atau hanya ingin menarik tangan orang lain jika menginginkan sesuatu.
10. Tidak memahami bahasa verbal (lisan).

Apa penyebab Autisme?
            Autisme disebabkan oleh berbagai factor (multifactor). Menurut para ahli dasar kelainannya adalah factor genetic yang kemudian di pengaruhi oleh berbagai factor eksternal/lingkungan. Yang termasuk pada factor ejsternal diantaranya adalah: Infeksi (Rubella, Cytomegalo virus) saat bayi dalam kandungan, bahan-bahan kimia (pengawet makanan, pewarna makanan, penyedap rasa dan berbagai food additive, cat tembok, cadmium, serta air raksa (Hg) dan sebagainya.

Apa yang harus di lakukan jika anak kita terdeteksi Autisme?
1. Melakukan pemeriksaan ke Dokter anak uang benar-benar mengetahui tentang autisme untuk mendapatkan Diagnosis.
2.      Melakukan Intervensi secara dini dengan melakukan Tata laksana Perilaku.
3.      Melakukan Intervensi Biomedia/obat-obatan.

Apa yang dimaksud dengan Tata laksana Perilaku?
            Sekarang ini banyak jenis terapi yang ditawarkan pada orang tua yang memiliki anak penyandang Autisme, namun orang tua harus selektif dalam memilih jenis terapi yang dibutuhkan oleh buah hati mereka.
            Applied Behavior Analysisi atau ABA merupakan satu-satunya Intervensi yang di anjurkan oleh NYSDOH (New York States Departemnt of Health) karena di dukung oleh penelitian dan pengalaman selama puluhan tahun.
            Metode ABA adalah suatu ilmu yang menggunakan prosedur perubahan perilaku untuk membuat individu-individu untuk membangin kemampuan/aktivitas dengan ukuran nilai-nilai yang ada di masyarakat. Kurikulum ABA di tekankan pada kemampuan Bahasa, kemampuan social, kemampuan emosi, kemampuan akademis, dan kemampuan Bantu diri.
            Adapun tingkat keberhasilan ABA dalam menangani autisme dapat dibuktikan dengan penelitian di UCLA yang menggunakan metode modifikasi perilaku 40 jam/minggu selama 2 tahun. Ada 19 anak autistic berusia 4 tahun dengan IQ dibawah 60 hasilnya 89% mengalami kemajuan pesat yang terdiri dari 9 anak (47%) mencapai kognitif normal, uji IQ dengan berbagai standart normal dan tidak dapat dibedakan dengan anak-anak lainnya baik oleh orang awam maupun professional yang mengujinya. Sisanya yaitu 8 anak (42%) mencapai kemajuan dengan berbagai tingkat, 2 anak (11%) memperoleh sedikit kemajuan.

Tehnik penanganan Tata Laksana Perilaku dengan Metode ABA
            Dalam menangani autisme dengan metode ABA, kunci keberhasilan agar anak bias mengikuti instruksi, pertama kali yang kita lakukan adalah mengajarkan Kepatuhan dan Kontak Mata. Format umum untuk suatu uji coba latihan (discret trial training) adalah sebagai berikut:
1.      Terapis memberi suatu stimulus (rangsang, berupa instruksi ke anak)
2.      Anak berespon benar/tepat atau salah/tidak tepat/tidak berespon (yang di anggap salah).
3.    Terapis berespon (dengan memberi feed back/consequence, yaitu memberi imbalan/reinforcer jika benar dan mengatakan “tidak” jika salah).
4.      Terdapat interval singkat sebelum memulai uji coba (trial) berikutnya.

2 komentar:

  1. kenapa anak autis suka mengulang sesuatu yah? kayak muter2 gitu?

    BalasHapus
  2. mereka melakukan itu agar membuat diri mereka tenang..^^

    BalasHapus