Sabtu, 17 Desember 2011

Sebuah Pilihan


Pada beberapa tahun belakangan ini saya sering mendengar dan merasa iba karena terjadinya suatu pergeseran. Pergeseran yang saya maksud disini bukan pergeseran moral ataupun cara pandang. Pergeseran yang saya maksud adalah pergeseran tontonan yang “baik” untuk ditonton maupun didengar oleh anak-anak. Anda mungkin sering mendengar anak-anak yang lebih memilih untuk menyanyikan lagu SMASH daripada lagu anak-anak seperti “Lihat Kebunku” atau mungkin “Dua Mata Saya” ciptaan Pak Kasur bukan? atau mungkin Anda juga sering melihat anak-anak yang lebih suka berjam-jam duduk manis untuk bermain game online hingga lupa untuk makan, mandi, dll. Semua hal ini terjadi menurut saya karena anak-anak tidak memiliki pilihan lain karena tidak adanya sarana untuk mereka bermain dan berekspresi seperti layaknya anak-anak.
Saya ingat pada saat saya masih menjadi seorang anak-anak, ketika hari libur, saya pagi-pagi sudah bangun dan mandi bersiap-siap untuk menonton tv anak dari pagi hingga siang. Saya ingat waktu itu acara-acara yang ditayang seperti Mojacko, Chibi Maroko Chan, Doraemon, Detective Conan, Ninja Hatori, dll. Ketika siang hari, saya bermain bersama teman-teman, seperti bermain kasti, benteng, lompat karet dan bersepeda ria. Namun coba Anda cermati, sekarang ketika hari libur tiba, apa yang anak-anak lakukan? Dari pengamatan saya, anak-anak lebih memilih untuk bermain game online dari pagi hingga sore hari atau bahkan hingga malam. Mereka akan balik ke rumah apabila orang tuanya sudah marah-marah karena mereka belum makan dan mandi. Tapi saya bingung, sebenarnya apa yang ada dipikiran orangtua sekarang, apa mereka senang karena anak mereka anteng di warnet dan tidak nakal. Sehingga mereka tidak perlu khawatir akan banyak hal, seperti mereka main dimana, temannya siapa. Orangtua mereka tinggal mengontrol/tidak anaknya yang sedang bermain.
Saya tidak menyalahkan anak-anak kenapa mereka seperti itu, seperti dari awal yang saya katakan bahwa mereka tidak memiliki pilihan. Sarana bermain tidak ada, apalagi untuk mereka yang tinggal ditempat padat penduduk. Sekalipun mereka bermain, harus diantara gang-gang sempit. Ini yang terjadi didaerah lingkungan saya, mirisnya daerah lingkungan saya yang tidak memiliki lapangan untuk anak-anak bermain karena lapangan-lapangan tersebut telah berubah menjadi rumah-rumah ini membuat anak-anak tersebut lebih memilih bermain di kuburan. Anda mungkin terkejut membaca ini, terkadang saya juga tidak habis pikir hal ini terjadi. Kuburan yang merupakan tempat yang sakral menjadi tempat bermain anak. Itulah salah satunya yang membuat saya berkata anak-anak sekarang tidak memiliki pilihan.
Selain tidak adanya sarana bermain, anak-anak tidak memiliki pilihan tontonan mereka. Jangan salahkan mereka jika mereka lebih hafal lagu Peterpan, SMASH, 7 Icon, D’Bagindas, dll dibandingkan lagu anak-anak. Coba Anda cermati, tayangan pada hari libur pagi hingga siang, lebih banyak acara musik dibandingkan acara anak-anak. Oleh sebab itulah anak-anak sekarang tidak tahu banyak tentang kartun, lagu anak-anak, hal-hal yang berbau anak-anak. Terkadang saya merasa bersyukur dilahirkan menjadi anak-anak pada tahun 90an, ada banyak hal-hal masa kecil yang dapat dikenang, seperti bermain sepeda, bangun pagi hanya untuk menonton kartun, bermain kasti, lompat tali, banyak lagi. Saya harap dengan membaca tulisan saya ini menambah terbuka lebarnya cara pandang kita terhadap anak-anak sekarang, tuntunlah mereka untuk mengetahui bagaimana indahnya masa kecil sehingga nanti mereka akan selalu mengenang masa kecilnya yang indah sebagai seorang anak-anak.^^ (Aja aja Fighting!!)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar