Rabu, 11 Januari 2012

Alginat


Alginat adalah salah salah satu jenis polisakarida yang terdapat dalam dinding sel alga coklat dengan kadar mencapai 40% dari total berat kering dan memegang peranan penting dalam mempertahankan struktur jaringan sel alga. Jenis alga coklat sebagai sumber bahan baku alginat seperti salah satu jenis alga coklat yang ditemukan tumbuh di perairan Indonesia adalah Sargassum echinocarphum (Rasyid, 2010).
Alginat merupakan suatu karbohidrat koloid hirofilik yang diekstrak dari berbagai spesies ganggang (Phaeophyceae). Alginat bersifat permeabel dibanding substrat agar dan dapat larut pada suhu kamar tanpa panas. Alginat bersifat tidak toksik, relatif murah, banyak tersedia, mudah aplikasinya. Asam alginat merupakan glukoronoglikan berantai lurus yang terdiri dari D-manuronat dan L-glukuronat dalam bentuk cincin piranosa yang berikatan 1,4 pada atom-atom. Molekul alginat mengandung rangkaian hidroksil (OH) yang mampu berikatan dengan kation. Jika alginat dicampur dengan sodium maka akan terbentuk rantai yang fleksibel. Misalnya sodium alginat dicampur dengan kalsium, maka ion kalsium akan berikatan dengan dua rantai alginat sehingga akan saling berikatan. Rantai yang fleksibel ini akan lebih fleksibel dan membentuk jaringan yang besar menjadi sebuah gel.
Secara teoritis menurut) alginat dapat larut dengan baik pada saat dicampur dengan air, karena dilepaskannya anion karboksilat. Faktor kimia garam monovalen dan kation polivalen akan mempengaruhi kelarutan alginat. Alginat sukar larut dalam air yang mengandung komponen yang dapat menimbulkan kompetisi dalam proses hidrasi alginat di dalam air, seperti gula, tepung dan protein (Noerdin, et.al., 2003).
Natrium alginat berupa bubuk berwarna putih sampai kekuningan, tidak berbau dan berasa, larut dalam air, mengental membentuk koloid, tidak larut dalam alkohol, kloroform, eter serta asam dengan pH kurang dari 3 (Noerdin, et.al., 2003).
Sifat-sifat fisikokimia seperti viskositas dan rasio monomer penting artinya dalam pemanfaatan alginat pada berbagai industri misalnya industri makanan, minuman, kosmetik, cat, tekstil dan pemanfaatan lainnya. Viskositas dan gel strength merupakan dua karakteristik kunci dalam kualitas alginat. Rasio monomer yang menyusun alginat juga penting dalam pemanfaatan terutama dalam kaitan sifat bioaktifnya maupun sifat struktur dari gelnya. Viskositas maupun rasio monomer alginat juga dipengaruhi oleh spesies, asal dan proses ekstraksi dari alginatnya. Rasio monomer penyusun alginat berbeda-beda ditentukan oleh spesies alginofit yang menghasilkannya, dan tempat tumbuh alginofitnya (Rachmat dan Rasyid dalam Sulastri, 2011).
Sifat-sifat alginat sebagian besar tergantung pada tingkat polimerisasi dan perbandingan komposisi guluronat dan mannuronat dalam molekul. Asam alginat tidak larut dalam air dan mengendap pada pH < 3,5 sedangkan garam alginat dapat larut dalam air dingin atau air panas dan mampu membentuk larutan yang stabil. Natrium Alginat tidak dapat larut dalam pelarut organik tetapi dapat mengendap dengan alkohol. Alginat sangat stabil pada pH 5 – 10, sedangkan pada pH yang lebih tinggi viskositasnya sangat kecil akibat adanya degradasi ß- eliminatif. Ikatan glikosidik antara asam mannuronat dan guluronat kurang stabil terhadap hidrolisis asam dibandingkan ikatan dua asam mannuronat atau dua asam guluronat. Kemampuan alginat membentuk gel terutama berkaitan dengan proporsi L-guluronat (An Ullman’s 1998 diacu dalam Maharani dan Widyayanti dalam Sulastri, 2011).
Alginat juga dapat berfungsi sebagai senyawa peningkat daya suspensi larutan (stabilisator) dengan proses pengentalan larutan itu sendiri. Di sistem lain, alginat mampu menjaga suspensi karena muatan negatifnya serta ukuran kalorinya yang memungkinkan membentuk pembungkus bagi pertikel yang tersuspensi. Sifat viskositasnya yang tinggi mampu mempengaruhi stabilitas emulsi minyak dalam air. Propyleneglycol alginat memiliki gugus lipophylic maupun hydrophylic yang terdapat dalam molekul dan merupakan emulsifier asli dengan sifat pengental yang kuat (Winarno dalam Sulastri, 2011).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar