Senin, 30 Januari 2012

Asosiasi Interspesifik

LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI TUMBUHAN

Asosiasi Interspesifik

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2010


PENDAHULUAN

I.1.     Latar Belakang

            Apabila ditinjau dari segi proses alam. Manusia, seperti halnya makhluk-makhluk hidup lainnya selalu berinteraksi dengan lingkungannya, demikian juga interaksi yang terjadi antar setiap organisme dengan lingkungannya merupakan proses yang tidak sederhana melainkan suatu proses yang kompleks. Karena didalam lingkungan hidup terdapat banyak komponen yang disebut komponen lingkungan (Soemarwoto, 1983). Berdasarkan konsep dasar pengetahuan ekologi, komponen lingkunganyang dimaksud tersebut juga dinamakan komponen ekologi karena setiap komponen lingkungan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dan saling memengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung (Odum, 1993) .
Makhluk hidup dalam mempertahankan hidupnya memerlukan komponen lain yang terdapat dilingkungannya. Misalnya udara dan air yang sangat mereka perlukan untuk bernafas dan minum dan kebutuhan lainnya. Seperti oksigen yang dihirup oleh hewan dari udara untuk pernafasan, sebagian beasr berasal dari tumbuhan yang melakukan proses fotosintesis. Sebaliknya, karbondioksida yang dihasilkan dari pernapasan oleh hewan digunakan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Proses fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan selain memanfaatkan karbondioksida, juga memerlukan bahan-bahan lainnya yang diperlukan oleh tumbuhan untuk proses tumbuh dan berkembang. Seperti energi dari radiasi matahari, air dan zat-zat hara.
    Suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, sebagian diantaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota spesies lain dari komunitas tersebut. Seringkali dua atau lebih spesies berinteraksi. Interaksi tersebut bisa positif (menguntungkan kedua pihak) atau negatif (merugikan bagi salah satu). Untuk itulah pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kedekatan(asosiasi) antar Spesies 1 dan Spesies 2 dengan pengukuran. Dengan pengukuran ini akan diketahui batas hubungan interspesifik antara Spesies 1 dengan Spesies 2.
I.2.Tujuan
Untuk mempelajari persaingan interspesifik yang terjadi antara spesies tumbuhan yang berbeda.

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Kompetisi
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002) kompettisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik (Krebs, 2002; Molles, 2002)
Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu spesies tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton, 1990).
Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam,salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secar merugikan.Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi , spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive exclusion principles ) (Ewusie,1990).
Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua , yaitu
Kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau exploitative competition ), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas
Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain (Lamberg, 1998;kerbs, 2002; Molles, 2002)
Alelopati (Allelopathy) adalah efek negatif (menghambat perkecembahan dan pertumbuhan) yang ditimbulkan oleh suatu tanaman pada tanaman lain yang ada disekitarnya melalaui pelepasan senyawa kimia yang berasal dari proses metabolism sekunder (Muller-Dombois & Ellenberg, 1974; Soerianegara & Indrawan, 1980; Lamberrs, 1998; Muller, 1990 yang dikutip oleh Hierro & Callawai, 2003). Namun tidak semua alelopati bersifat negatif, ada beberapa senyawa alelopati yang bersifat positif baik secara langsung ataupun tidak langsung (Lambers et al. 1998; Kerbs, 2002; Ferguson & Rathinasabapathi, 2003; Broz & Vivanco, 2006).

II.2.Macam-macam Kompetisi
Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
Kompetisi intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama
Kompetisi interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama.
Intraplant competition yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar organ vegetatif atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman
Interplant competition yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan spesiesnya (dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition). (Kastono , 2005)

II.3.Persaingan intra spesifik
Pada latihan dalam laboratorium dalam persaingan intraspesifik diambil contoh hasil telur pada Drosophyla dalam kaitannya dengan rapatan populasi. Dalam percobaan ini pengaruh rapatan populasi pada kecepatan produksi telur pada lalat buah Drosophyla akan dipelajari sebagai suatu contoh persaingan intraspesifik. Tempat penimbunan telur akan dibuat tetap dan jumlah lalat betina bertambah secara logaritmik ( Michael ,1994 ).

II.4.Persaingan Interspesifik
Adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies. Hokum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni ceruk yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian dari ceruk tersebut dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu ceruk mikro yang terpisah (Michael, 1994).
Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, system-sistem akan bersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).


METODOLOGI PERCOBAAN

III.1.Waktu dan tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari jumat di lapangan velodrome.

III.2.Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah besi  berukuran  30 x 30 cm , Bahan-bahan yang digunakan adalah tanaman rerumputan

III.3.Cara kerja
    Menentukan plot yang akan di teliti.
    Membuat transek dengan menggunakan besi yang berukuran 30 x 30 cm
    Mencari tanaman yang dapat berasosiasi antara spesies 1 dan spesies 2
    Menempatkan kuadrat sebanyak 100 kali sepanjang transek
    Mencatat kehadiran spesies tumbuhan yang di amati pada setiap kuadrat.
    Menguji data dengan menggunakan Khi kuadrat pada α= 0,05, dengan df= 1 adalah 3.83.
IV.1.Hasil Pengamatan

V. Analisis Data
Untuk menentukan terdapat atau tidaknya asosiasi antara Sp.1 dan Sp.2 maka terlebih dahulu ditentukan hipotesisnya sebagai berikut:
Ho    : tidak ada asosiasi antara Spesies 1 dan Spesies 2
H1    : terdapat asosiasi antara Spesies 1 dan Spesies 2
Frekuensi harapan untuk tiap tipe pengamatan diperoleh dengan rumus sebagai berikut:
F harapan A = ((a+b)(a+c))/((a+b+c+d))            F harapan C = ((a+c)(c+d))/((a+b+c+d))
F harapan A = ((86)(97))/((100)) = 83,42            F harapan C = ((97)(14))/((100)) = 13,58
F harapan B = ((a+b)(b+d))/((a+b+c+d))             F harapan D = ((c+d)(b+d))/((a+b+c+d))
F harapan B = ((86)(3))/((100)) = 2,58            F harapan D = ((14)(3))/((100)) = 0,42
Untuk memperoleh derajat asosiasi interspesifik antara Spesies 1 dan Spesies 2 digunakan tabel kontigensi 2 x 2.




X2 =  ∑  ((amati-harapan) ^2)/harapan
X2 = ((83-83,42) ^2)/83,42 + ((3-2,58) ^2)/2,58 + ((14-13,58) ^2)/13,58 + ((0-0,42) ^2)/0,42
X2 2,11 x 10-3 + 0.068 + 0.013 + 0.42
X2 = 0.503
Karena ad≥bc maka,
 C = (ad-bc)/((b+d)(c+d))
C = ((83 x 0)- (3x 14))/((3+0)(14+0))
C = (-42)/42 = -1
X2 tabel pada taraf uji α = 5% (df 1= 3.84)
Kriteria : Tolak Ho jika X2hitung< X2tabel yaitu 0.503<3.84 maka terima Ho.
Artinya: tidak terdapat asosiasi antara Sp.1 dan Sp.2.
VI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu mengenai asosiasi interspesifik memiliki tujuan untuk mengamati asosiasi interspesifik antara Spesies 1 dan Spesies 2. Praktikum ini dilaksanakan pada lapangan Velodrom pada tanggal 5 November 2010 dengan teknik sampling yaitu metode plot atau metode kuadrat. Pengamatan dilakukan pada pukul 10.00 dengan kondisi cuaca yang cerah. Kondisi lokasi pengamatan di tempat yang terbuka tanpa naungan.
Pada tiap kuadrat yang dikerjakan, hadir atau tidaknya kedua spesies dicatat, kemudian disusun dalam tabel “contingency”. Tabel tersebut merupakan data pengamatan, data yang diharapkan, mengasumsikan bahwa distribusi dua spesies yang diamati adalah secara acak lengkap, dapat dibandingkan dengan rumus khi-kuadrat (X2).
Dari hasil pengamatan didapatkan cuplikan tipe a berjumlah 83 kuadrat, tipe b berjumlah 3, tipe c berjumlah 14, dan tipe d berjumlah 0. Berdasarkan analisis data yang dilakukan menunjukkan bahwa dari 100 kuadrat cuplikan pengamatan diketahui tidak terdapat asosiasi antara Sp.1 dan Sp.2.
Dari hasil pengamatan, tipe a merupakan tipe yang paling banyak yaitu berjumlah 82 dengan frekuensi harapan 82.17, sedangkan tipe paling sedikit adalah tipe b yaitu berjumlah 1 dengan frekuensi harapan 0.83. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan X2hitung sebesar 0.503 dengan X2tabel sebesar 3.84 dengan α=5%, dengan demikian terima Ho karena X2hitung lebih kecil dari X2tabel. Sehingga tidak terdapat asosiasi antara Sp.1 dan Sp.2.
Tidak adanya asosiasi antara kedua spesies menunjukkan bahwa kedua spesies ini bebas satu sama lain (independent). Tidak seperti teori yang menjelaskan bahwa organisme dalam suatu komunitas adalah bersifat saling bergantungan/interdependent, sehingga mereka tidak terikat sekedar berdasarkan kesempatan saja, dan gangguan satu organisme akan mempunyai konsekuensi terhadap keseluruhan organisme (Hardjosuwarno, 1990), namun hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak adanya saling ketergantungan.
Menurut Gause (1934) mengatakan bahwa apabila dua organisme tumbuh bersama, akhirnya ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang akan mendominasi, sedangkan yang kalah akan punah. Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa tipe b hanya berjumlah 3 dan tipe d berjumlah 0. Berarti tipe c lebih banyak dibandingkan tipe b. Hal ini memperlihatkan lebih banyak Sp.2 dibandingkan dengan Sp.1.   
Dari hasil perhitungan, derajat asosiasi bernilai negatif yaitu sebesar -1. Hal ini menjelaskan bahwa asosiasi antara kedua spesies tidak kuat dengan koefisien paling tinggi yaitu 1. Kesimpulannya adalah Sp.1 dan Sp.2 berasosiasi negatif, menurut Hardjosuwarno (1990) alasan lebih lanjut tentang adanya bentuk asosiasi harus ditentukan dengan pengamatan ekologis dengan eksperimentasi; dan perlakuan statistik tersebut hanya sekedar merupakan langkah pertama dan tidak atau belum memberi bukti tentang adanya interaksi biologi.
    Tidak adanya asosiasi mungkin disebabkan kedua spesies tersebut memiliki perbedaan daur hidup dan peranan ekologis yang berbeda, sebab organisme yang terdapat hubungan kompetisi memiliki peranan ekologis yang tumpang tindih. Sebab lain tidak adanya asosiasi, mungkin juga disebabkan karena faktor lingkungan seperti pH tanah, kandungan hara pada tanah dan suhu maksimum-minimum pada lingkungan tersebut yang akan menyeleleksi spesies-spesies apa saja yang dapat tumbuh dengan subur ditempat tersebut. Tidak adanya asosiasi juga bisa disebabkan lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan dan reproduksi kedua spesies sehingga kedua spesies dapat tumbuh dan berkembang bersama-sama tanpa adanya kompetisi sehingga apabila satu spesies tidak ada, tidak mempengaruhi spesies yang lainnya.
    Setiap tumbuhan memiliki toleransi terhadap lingkungan secara berbeda jadi jika kondisi lingkungan memungkinkan spesies tersebut dapat tumbuh maka kelimpahan spesies tersebut akan banyak, namun sebaliknya jika kondisi lingkungan tidak mendukung kelimpahannya akan sedikit. Dalam hal ini kelimpahan Sp.1 sedikit jika dibandingkan dengan kelimpahan Sp.2. Jadi pada kesimpulannya perbedaan kelimpahan pada Sp.1 dan Sp.2 kemungkinan bukan diakibatkan oleh asosiasi namun oleh peranan ekologis yang berbeda serta faktor lingkungan, bukan karena adanya asosiasi interspesifik antara kedua spesies tersebut.
VII. Kesimpulan
    Tidak terdapat asosiasi antara Spesies 1 dan Spesies 2.
    Spesies 1 lebih sedikit dibandingkan dengan Spesies 2.
    Hasil uji statistik menunjukkan bahwa antara Spesies 1 dengan Spesies 2 tidak terdapat asosiasi interspesifik.
    Tingkat asosiasi interspesifik antara rumput teki dengan spesies 2 adalah 0,23, ini menunjukkan bahwa tingkat asosiasinya rendah.
    Kondisi lingkungan yang mendukung antara kedua spesies membuat tidak adanya persaingan diantara keduanya.

DAFTAR PUSTAKA
Begon, B.,J.L. Harper and C.R. Townsend. 1986. Ecology: Individual, Population, and communities. Sunderland, Massachusetts: Sinauer Associates, Inc. Publisher.
Budiastuti. 2009. Foliar Triaconthanol Application and Plant Spacing on Mungbean. Jakarta: UI Press.
Ewusie. 1990. Pengantar Ekologi Tropika . Bandung: ITB.
Hardjosuwarno, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuuhan. Yogyakarta: Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada.
Kartawinata. 1986. Pengantar Ekologi. Bandung: Remadja karya CV.
Kastono. 2005. Ilmu Gulma. Yogyakarta: Jurusan Budidaya Pertanian. UGM.
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Mueller-Dombois, D. and H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York. London. Sydney. Toronto: John Wiley & Sons.
Naughton. 1998. Ekologi Umum. edisi kedua. Yogyakarta: UGM Press.
Odum. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar