Senin, 23 Januari 2012

Cinta Allah, Puncak Segala Cinta

This note that I posted in my facebook account on 13th August 2010..


Ya, puncak tertinggi dari segala cinta adalah cinta Allah, karena segala macam cinta kepada selain-Nya akan mudah luntur dan pergi seiring putaran waktu dan hari. Cinta kepada Allah berarti menyemayamkan Allah di dalam lubuk hati kita. Cinta kepada Allah berarti mengingat dan menyebut nama-Nya dalam setiap ucapan, tingkah laku, dan dalam seluruh hembusannapas kita. Cinta kepada Allah berarti mendasarkan cinta kepada sesuatu di atas cinta-Nya. Cinta kepada Allah berarti ketundukan dan kepatuhan kita secara totalitas untuk meraih cinta-Nya. Bukti nyata dari cinta kita kepada Allah adalah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, seperti yang telah dianjurkan oleh Rasul-Nya. Allah telah berfirman:"Katakanlah : ' Jika kamu (benar-benar) menyintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Ali Imran : 31)
Jadi, untuk dapat meraih cinta Allah, kita harus mampu mengerjakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kita harus tunduk dan patuh kepada ketentuan-Nya. Kita harus mampu menyintai-Nya dengan segenap hati dan jiwa. Jika kita mampu melakukan semua itu, maka berarti kita telah mampu membuktikan cinta kita, tidak hanya sebatas ucapan, tetapi terwujud pula dalam ucapan, tindakan, dan perbuatan. Orang yang mampu mempersembahkan cintanya secara tulus kepada-Nya, niscaya Allah pun akan menyambut cintanya dan melimpahkan cinta-Nya kepadanya. Allah tidak mungkin menyia-nyiakan kecintaan seorang hamba kepada-Nya. Sehingga jadilah ia "orang yang terkasih" di sisi-Nya (para wali Allah).
Lebih dari itu, kita juga harus mampu memposisikan cinta kita kepada apapun di dunia ini, sebagai sarana untuk meraih cinta-Nya. Artinya, kita harus mampu mendasarkan segala ucapan, tingkah laku, dan perbuatan kita karena Allah, bukan karena yang lain. Kita mencintai dan membenci seseorang karena Allah, member dan menerima karena Allah, mendukung dan melarang karena Allah, berbuat dan tidak berbuat karena Allah, dan seterusnya. Kita harus berusaha menyandarkan keinginan dan nafsu kita kepada kehendak-Nya, agar setiap keinginan dan hasrat kita selalu berdasar kepada iradat-Nya. Rasulullah telah bersabda, "Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, member karena Allah, dan mencegah karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya." (H.R.Abu Daud)
Singkatnya, kita harus memposisikan cinta kita kepada Sang Pencipta di atas segala-galanya. Cinta kita kepada-Nya harus diatas cinta kita kepada orang tua, anak-cucu, kerabat, dan teman sejawat, harta benda, diri kita sendiri, bahkan juga di atas apa pun yang ada di dunia. Dalam konteks inilah, kemudian Rasulullah tercinta mengajarkan doa: "Ya Allah Ya Tuhanku, jadikanlah kecintaanku kepada-Mu adalah sesuatu yang paling aku cintai di dunia ini. Jadikanlah takutku pada-Mu sebagai sesuatu yang paling aku takutkan di dunia ini. Putuskanlah dariku segala keinginan (berlebihan) terhadap dunia ini, karena kerinduanku untuk berjumpa dengan-Mu. Jika Engkau jadikan tenang mata para pemuja dunia dengan dunia yang ada di pelupuk mata mereka, maka jadikanlah tenang penglihatanku karena indahnya beribadah kepada-Mu."(H.R.Abu Na'im)Juga doa: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan cinta-Mu dan cinta orang-orang yang menyintai-Mu. Aku bermohon kepadamu akan cinta yang dapat membawaku kepada cinta-Mu."(H.R.Al-Hakim)

Sumber: Cinta ALLAH itu CINTA SEJATI, cinta yang ABADI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar