Senin, 23 Januari 2012

Cintailah Sesuatu Sekedarnya Saja!

This note that I posted in my facebook account on 9th August 2010..

Cinta dan benci hanya mempunyai batas yang sangat tipis, bahkan lebih tipis dari kulit ari yang membungkus tubuh kita. Tidak mustahil, kala pagi menjelang kita begitu memimpikannya untuk dapat kita miliki. Namun entah mengapa, saat senja datang rasa cinta itu pupus sudah, berganti dengan kebencian dan rasa antipasti. Ya, putaran masa dan waktu memang acapkali mengubah semuanya. Begitulah realitanya, hati manusia memang sulit untuk ditebak kemana arahnya. Dalamnya lautan masihlah bisa diukur dasarnya. Tapi dalamnya hati manusia, siapa gerangan yang dapat menyelaminya?
Karena itulah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada kita untuk tidak mencintai ataupun membenci sesuatu (seseorang) secara membabi buta. ‘Cinta mati’ hanya akan menggoreskan luka di hati tatkala “yang dicintai” tidaklah sesuai dengan harapan hati. Sementara benci dengan segenap rasa antipasti, hanya akan membuat hati menjadi mati, sehingga benak kepala pun dipenuhi oleh kecamuk murka dan buruk sangka. Membenci secara membabi buta, hanya akan membuat jiwa kian tersiksa dan merana. Mengapa kita mesti membencinya setengah mati, padahal bisa jadi ia akan membawa kebaikan pada diri? Mengapa pula kita mesti mencintanya sepenuh hati, padahal bisa jadi ia akan mengantar kita pada kehancuran diri? Allah telah memperingatkan di dalam kitab suci.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

“(Maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidal menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(Q.S. An-Nisa:19)

Hidup ini penuh misteri. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bisa saja orang yang kita cinta hari ini, ia akan lari dan mencampakkan kita begitu saja, saat ia menganggap bahwa kita tiada lagi punya harga dan nilai guna di matanya. Pun, bisa jadi orang yang hari ini kita benci setengah mati, justru dial ah yang merengkuh kita dalam cinta-kasihnya saat orang lain meninggalkan kita dalam kenistaan dan kehinaan diri. Bukankah realitas hidup telah mengajarkan kepada kita, betapa banyak orang yang dahulunya adalah seteru abadi, tapi kini justru menjadi pasangan hidup sejati? Betapa banyak pula orang yang dulunya menjadi belahan hati, tapi kini justru menjadi musuh nyata yang paling keji?

Ya, hidup ini memang penuh misteri. Semua yang telah dan akan terjadi adalah mutlak rahasia Ilahi. Kita, manusia, hanya bisa mengambil pelajaran dan hikamh dari apa yang telah terjadi. Cintailah segala sesuatu sewajarnya saja. Jangan engkau peruntukkan 100% cintamu untuk sesuatu yang fana, karena hal itu akan membuatmu kecewa. Percayalah, kalau tidak dia yang meninggalkanmu, pasti engakaulah yang akan meninggalkannya. Karena semua yang ada di dunia ini hanyalah sementara. Jadi, jangan pernah kebencian dan kecintaan kita, menutupi “Nur Ilahi” yang memancar dari dalam lubuk hati.

Sumber: CINTA ALLAH itu CINTA SEJATI, CINTA yang ABADI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar