Senin, 30 Januari 2012

Keanekaragaman Karang di Pantai Paniis Ujung Kulon, Banten

Keanekaragaman Karang di Pantai Paniis Ujung Kulon, Banten
Biodiversity of Coral in Paniis Beach Ujung Kulon, Banten
Amien Ramadhan Ishak, Khuzaemah, dan MutiaraSyafitri*

Abstract
The Aim of the research measured diversity index of the Coral reef in Paniis Sea, Taman Jaya, Ujung Kulon National Park, Banten. The research held on May 2010. The research found out 5 family and 10 species. The diversity index of The Coral reef on Paniis is 2,78. Coral bleaching occurs to corals in area sampling. Some physical chemical indicators support the coral living.
Keywords : Coral, diversity index, Paniis.

Pendahuluan
Indonesia terkenal dengan kenidahan dan kekayaan alamnya yang dalam pengelolaan dan pengeksploitasiannya harus dijaga dan dilakukan secara bijaksana, sehingga apa yang kita miliki ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan lestari. Salah satu kekayaan yang besar manfaatnya bagi kehidupan kita adalah ekosistem terumbu karang. Ekosistem ini merupakan salah satu sumber daya yang penting artinya, baik secara ekologis maupun secara ekonomis. Banyak penelitian yang dilakukan para ahli untuk melihat bagaimana kondisi terumbu karang pada suatu daerah, keunikan dan keanekaragaman komunitas terumbu karang menyebabkan kompleksnya penelitian yang harus dilakukan.
Ekosistem terumbu karang Indonesia merupakan keanekaragaman hayati yang sangat berharga yang merupakan 15% dari luas terumbu karang dunia (Thomascik 1977 dalam Hutomo dan Suharti, 1998).
Taman Nasional ujung Kulon terletak di bagian ujung barat Pulau Jawa. Secara geografis antara 105020’BT dan 6045’ LS. Luas keseluruhan 136.656 ha., terdiri dari 67.041 ha daratan dan 69.626 ha laut. Topografi di semenanjung Ujung Kulon berbentuk segitiga dengan bukit yang berketinggian sekitar 50 m dpl. Curah hujan tahunan mencapai 3.140 mm dengan suhu berkisar 200-300 C dan kelembaban 80%-90%. Curah hujan setiap bulan rata-rata sekitar 200 mm.
Kerusakan habitat terumbu karang yang disebabkan oleh beberapa aktifitas manusia diatas telah mengancam keanekaragaman hayati terumbu karang di Indonesia. Taman Nasional Ujung sebagai daerah konservasi yang dikenal memiliki daerah terumbu karang diduga sudah mengalami kerusakan. Desa Taman Jaya sebagai daerah penyangga TN Ujung Kulon khususnya Pantai Paniis memiliki terumbu karang yang telah mengalami kerusakan mencapai 70-80% (Lasti, 2003). Kini Kondisi terumbu karang diduga sedang pulih setelah mengalami kerusakan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai keanekaragaman jenis-jenis terumbu karang yang ada di Pantai Paniis tersebut.
Penelitian kondisi terumbu karang di Pantai Paniis Taman Nasional Ujung Kulon telah dilakukan dalam Ekspedisi Latihan Dasar Manajemen Penelitian Lapangan pada tahun 2006. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya keanekaragaman karang di daerah ini. Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti dalam rangka Ekspedisi Biologi Konservasi melakukan penelitian di daerah ini untuk melihat perubahan yang terjadi dalam jangka waktu empat tahun.

Metode
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman karang di Pantai Paniis Taman Nasional Ujung Kulon Banten. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2010. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai. Data diambil dengan line transect sepanjang seratus meter tegak lurus dengan bibir pantai. Data diambil di sepuluh stasiun dengan jarak antar stasiun adalah dua puluh meter. Setelah data terkumpul data dianalisis dengan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener.

Hasil dan Pembahasan 
Penelitian ini merupakan studi untuk mengetahui kondisi terumbu karang yang ada di Pantai Paniis Taman Nasional Ujung Kulon. Pada penelitian ditemukan lima family dan sepuluh spesies yang terdiri dari enam karang keras (hard coral) dan tiga karang lunak (soft coral). Berikut adalah tabel hasil pengamatannya.
Tabel 1. Keanekaragaman Karang di Pantai Paniis Taman Nasional Ujung Kulon
Pada tabel 1. jumlah rata-rata spesies dan individudi transek satu sampai tiga paling rendah dibanding dengan jumlah di transek lainnya. Hal ini diduga karena lokasi transek satu sampai tiga dekat dengan aliran sungai (muara sungai) Cimarendeu. Meskipun sungai ini kecil (lebar mulut sungai sekitar 3 meter), namun diduga mempengaruhi salinitas sekitar muara. Disamping itu, sedimen yang dibawa juga akan mempengaruhi faktor-faktor fisika kimia dari habitat terumbu karang (Isfaeni, 2006).
Adapun jumlah rata-rata spesies dan individu di transek empat sampai enam menunjukkan angka yang paling tinggi dibanding dengan rata-rata transek lainnya. Hal ini diduga karena lokasi dari transek ini lebih menjorok ke arah laut dan memiliki kedalaman yang lebih dibandingkan transek lainnya, sehingga tidak mengalami kondisi pasang surut yang ekstrim. Disamping itu, jarak yang jauh dengan muara sungai menyebabkan salinitas airnya menjadi lebih seimbang.
Pada empat transek terakhir, rata-rata jumlah dan spesiesnya menduduki peringkat kedua. Hal ini diduga karena lokasi dari empat transek terakhir ini terletak pada teluk sehingga frekuensi terkena pasang surutnya lebih sering, akan tetapi ketidakhadiran dari muara sungai menyebabkan salinitasnya lebih stabil dibandingkan dengan transek satu sampai tiga.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, terdapat pembagian zona secara alami terhadap tutupan terumbu karang. Lokasi pengamatan yang dekat dengan pantai didominasi oleh Favites sp., sedangkan lokasi pengamatan yang menjorok ke laut didominasi oleh Acropora sp.. Hal ini dikarenakan oleh bentuk morfologi dari Acropora sp. yang bercabang dan memiliki lebaran pada setiap cabangnya sehingga lebih cepat tumbuh di daerah dengan intensitas ombak yang tinggi.
Indeks keanekaragaman terumbu karang di Pantai Paniis sebesar 2,78. Berdasarkan Estradivari, Indeks Keanekaragaman terumbu karang adalah jika 2,03,0 : keanekaragaman sedang. Kondisi ini dapat terjadi diduga karena kondisi fisik yang mendukung tumbuhnya terumbu karang menurut penelitian sebelumnya. Disamping itu kegiatan pengeboman dan penggunaan racun sianida terumbu karang untuk mencari ikan oleh pada nelayan telah berhenti (Isfaeni, 2006).
Tabel 2. Klasifikasi Karang di Pantai Paniis Ujung Kulon
Acropora sp. adalah jenis karang yang ditemukan paling banyak yaitu 43%. Spesies ini dapat tumbuh baik karena ombak di pantai Paniis cukup besar, yang cocok dengan fungsi Acropora sp. sebagai pemecah ombak (Departemen Kehutanan, 2007). Acropora ini biasanya sebagai pionir dalam proses suksesi atau pemulihan terumbu karang (Morton dalam Isfaeni, 2006). Spesies yang paling sedikit ditemukan adalah Galaxea sp. 3. Spesies ini adalah jenis karang lunak yang memiliki tentakel dan biasanya hidup di perairan yang terlindung dari gelombang laut yang kuat (Departemen Kehutanan, 2007).
    
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, persentasi tutupan karang mati adalah sebesar 30%. Sehingga Indeks Mortalitas dari terumbu karang di Pantai Paniis adalah 0,375. Nilai indeks kematian yang mendekati nol menunjukkan bahwa tidak ada perubahan yang berarti bagi karang hidup. Sedangkan nilai yang mendekati satu menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang berarti dari karang hidup menjadi mati (Estradivari, 2009).Di lokasi penelitian juga ditemukan tutupan karang budidaya sebanyak 4%. Tutupan karang ini ditemukan di transek delapan. Pembudidayaan karang ini merupakan program dari beberapa lembaga swadaya masyarakat yang salah satunya adalah WWF. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian terumbu karang di Taman Nasional Ujung Kulon.

Langkah Konservasi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya, terdapat peningkatan indeks keanekaragaman terumbu karang di Pantai Paniis. Hal ini menunjukkan kinerja LMS dalam menumbuhkan kesadaran bagi nelayan untuk melestarikan terumbu karang sebagai habitat bagi ikan-ikan karang cukup berhasil. Namun, perlu adanya perhatian yang lebih terhadap pelestarian terumbu karang dari semua kalangan masyarakat termasuk pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar terjadi kesinambungan antara kelestarian terumbu karang dan pemanfaatannya oleh manusia.

Kesimpulan
Indeks keanekaragaman terumbu karang di Pantai Paniis Taman Nasional Ujung Kulon   dalam kategori sedang, yaitu 2,78 dengan spesies terbanyak adalah Acropora sp..


Saran
Penelitian lanjutan diperlukan agar mendapat data yang lebih komprehensif dan dengan area sampling yang lebih luas. Juga perlu adanya peningkatan perlindungan dan pelestarian ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Ujung Kulon sebagai pendukung keseimbangan ekosistem dan pemanfaatan sumber daya laut untuk masa depan.

Daftar Pustaka
Departemen Kehutanan. 2007. Buku Panduan Jenis-jenis Karang Hias Hasil Transplantasi yang diperdagangkan di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Jakarta: Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu.
Estradivari, Edi Setyafan, Safran Yusri. 2009. Terumbu Karang Jakarta: Pengamatan Jangka Panjang Terumbu Karang Kepulauan Seribu. Jakarta: Yayasan Terumbu Karang Indonesia.
Isfaeni, Hanum, Nurhaida Hafni Lubis. 2006. Keanekaragaman Terumbu Karang di Pantai Paniis Ujung Kulon. Jakarta.
Mukhtasor. 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta: Pradnya Paramita.
Sunarto. 2006. Keanekaragaman Hayati dan Degradasi Ekosistem Terumbu Karang. Bandung: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar