Senin, 30 Januari 2012

STUDI SERANGGA DI SEKITAR KALI RAMBUT, TEGAL DAN DESA KARANG SARI BARAT, PEMALANG SELATAN

STUDI SERANGGA DI SEKITAR KALI RAMBUT, TEGAL DAN DESA KARANG SARI BARAT, PEMALANG SELATAN


PENDAHULUAN
Latar Belakang

Serangga sejauh ini merupakan kelas yang paling beragam sehingga tidak mungkin untuk mengetahui jumlah yang tepat dari seluruh jenis serangga yang ditemukan di dunia karena setiap tahun sekitar 7000 jenis serangga baru dideskripsikan khususnya jenis kumbang, lalat, dan tawon parasit.
Serangga dapat dijumpai di berbagai daerah di permukaan bumi. Mereka hidup sebagai pemakan tumbuhan, pemakan serangga atau binatang lainnya, bahkan ada juga yang menghisap darah mamalia (Nugroho, 1994).
Serangga merupakan golongan hewan yang dominan di muka bumi sekarang ini. Banyak sekali serangga yang berharga bagi manusia. Mereka merupakan makanan bagi banyak burung, ikan dan hewan-hewan yang berguna, mereka bertindak sebagai pembersih yang berharga terhadap bangkai, mereka membantu mempertahankan hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam keadaan terjaga, mereka berfaedah dalam bidang kedokteran dan dalam bidang penelitian ilmu pengetahuan. Sejumlah kecil serangga berbahaya dan menyebabkan kerugian-kerugian yang besar tiap tahun pada hasil-hasil pertanian dan produk yang disimpan, mereka dapat menularkan penyakit-penyakit yang secara serius mempengaruhi kesehatan manusia dan hewan-hewan lainnya (Borror, 1992).
Dalam kehidupan dan interaksinya dengan manusia, serangga memiliki beberapa peranan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan. Peranan serangga yang merugikan antara lain sebagai hama tanaman, sebagai parasit dan sebagai vektor penyakit. Meskipun serangga memiliki jumlah yang banyak dan peranan yang penting, namun masyarakat saat ini pada umumnya hanya melihat serangga sebagai hama dan perusak tanaman. Sehingga pemberantasan serangga dilakukan terus menerus (Borror, 1992).
Tujuan
1.    Mengetahui jenis-jenis serangga yang berada di sekitar Kali Rambut, Desa Jatinegara dan Desa Karang Sari Barat, Pemalang Selatan.
2.    Mengetahui teknik penangkapan serangga.

METODOLOGI
Tempat dan Waktu
Kuliah Lapangan (Field Trip) ini dilakukan dari tanggal 13 sampai dengan 14 Mei 2010. Tempat dilaksanakannya Kuliah Lapangan ini di Tegal. Tempat pengambilan serangga dilakukan di dua tempat yaitu di sekitar Kali Rambut, Desa Jatinegara, Tegal dan Desa Karang Sari Barat, Pemalang Selatan.

Metode
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan 4 teknik yaitu teknik tangkap langsung atau hunting menggunakan aerial net atau insect net dan saringan sedimen pada serangga air, pitfall trap, dan light trap.
Alat dan Bahan
Insect net, weather meter, pulpen, PH meter, thermometer, turbidimeter, kertas papilot, alkohol 96%, kamera digital, suntikan, lembar pengamatan, papan jalan, GPS,

Cara Kerja
Teknik tangkap langsung atau hunting menggunakan insect net:
1.    Menangkap serangga di daerah sekitar Kali Rambut, Desa Jatinegara, Tegal dan Desa Karang Sari, Kemalang.
2.    Serangga ditangkap menggunakan insect net, difoto terlebih dahulu dan kemudian dimasukan ke dalam papilot dan botol film yang dicatat nomor fotonya pada lembar pengamatan.
3.    Serangga diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi serangga.
4.    Mengukur factor abiotik atau lingkungan seperti temperature, pH, kelembaban, dan kecepatan angin.
5.    Beberapa serangga yang diawetkan, disuntikan alcohol 96% pada thoraksnya.
Teknik menggunakan pitfall trap:
1.    Menggali tanah yang


HASIL
Gambar 1. Histogram banyaknya ordo serangga yang tertangkap di Sekitar Kali Rambut dan Desa Karang Sari.
Tabel 1. Kondisi cuaca di Sekitar Kali Rambut, Desa Jatinegara, Tegal (Kamis, 13 Mei 2010) dan Desa Karang Sari Barat, Pemalang Selatan (Jumat,14 Mei 2010)



PEMBAHASAN 
Kuliah lapangan yang dilaksanakan di kedua tempat yaitu di daerah sekitar Kali Rambut, Desa Jatinegara, Tegal dan Desa Karang Sari Barat, Pemalang Selatan memperlihatkan banyaknya keanekaragaman jenis serangga pada kedua daerah ini. Pada tabel 1. Terlihat bahwa serangga yang tertangkap paling banyak ada pada ordo Lepidoptera.
Jenis serangga dari Ordo Lepidoptera yang teridentifikasi ada 10 jenis, yaitu :
1.    Hypolimnas bolina
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Family         : Nymphalidae
Genus          : Hypolimnas
Species      : Hypolimnas bolina
Serangga ini memiliki nama inggris yaitu The Great Eggfly. Ukuran tubuhnya sedang yaitu rentang sayap antara 65 sampai dengan 90 mm. Jantan dan betina memiliki bercak sayap yang berbeda. Pada jantan, tubuh bagian atas berwarna hitam dengan bercak putih dikelilingi biru berkilau. Sedangkan betina, tubuh bagian atas berwarna hitam dengan bercak putih namun ditandai oleh garis dan juga bercak berwarna jingga. Hypolimnas bolina pada betina sangat beragam dan kadang-kadang menunjukkan warna-warna yang berbeda.
Kupu-kupu ini sering terbang di daerah terbuka di dalam hutan atau di sepanjang jalan setapak. Makanan larvanya yaitu Acanthaceae, Colvolvulaceae, Malvaceae, Urticaceae. Larva memiliki panjang 52-55 mm, tubuhnya hitam atau coklat dengan duri berwarna kuning. Pupa dari kupu-kupu ini memiliki permukaan yang kasar. Kemudian kupu-kupu akan keluar dari pupa setelah tujuh sampai delapan hari.
2.    Leptosia nina
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo         : Lepidoptera
Family        : Pieridae
Genus        : Leptosia
Species      : Leptosia nina

Leptosia nina memiliki sayap berwarna putih dan titik hitam pada ujung sayapnya pada masing-masing sayap depan. Sayap depan dan belakang hamper sama, namun sayap belakang memiliki warna kuning pucat. Panjang sayapnya mencapai 3 cm.
Kupu-kupu ini memiliki nama inggris, yaitu The Psyche. Kupu-kupu ini terbang rendah pada rerumputan dan sangat lemah. Kupu-kupu ini banyak ditemukan pada daerah di sekitar Kali Rambut.
3.    Papilio memnon
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo         : Lepidoptera
Family        : Papilionidae
Genus        : Papilio
Species     : Papilio memnon

Serangga ini ditemukan pada saat di Desa Karang Sari. Memiliki nama inggris, yaitu The Great Mormon. Memiliki ukuran yang besar, rentang sayapnya antara 120 sampai dengan 150 mm. Pada jantan bagian atas tubuh berwarna hitam dengan helaian garis-garis kebiruan dan bagian bawah yang mirip dengan bintik-bintik merah di dasar sayap. Terdapat tanda garis-garis putih pada sayap bagian bawah. Memiliki delapan bintik-bintik putih pada toraks bagian atas. Betina memiliki warna sayap depan coklat tua, dengan garis putih keabu-abuan. Bagian dasar ketiga berwarna merah dengan ujung bagian dalamnya berwarna putih. Sayap belakang merupakan berwarna biru-hitam. Memiliki titik potongan berwarna kuning atau putih sebanyak 5-7.
Kupu-kupu ini ketika ditangkap sedang berpasangan yaitu jantan dan betina. Ditemukan pada tempat terbuka didalam hutan dan di sepanjang jalan setapak. Ditemukan terbang kesana-kemari pada tempat yang lumayan tinggi. Serangga ini seringkali ditemukan sedang mencari makan pada tumbuhan berbunga, terutama pada Citrus sp. dimana serangga ini meletakkan telurnya.
4.    Pupa dan Imago Cricula trifenestrata
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo         : Lepidoptera
Family        : Saturniidae
Genus        : Cricula
Species      : Cricula trifenestrata

Ngengat ini aktif di malam hari. Ukuran jantan dan betina berbeda. Rentang sayap betina bisa mencapai 45-55 mm. Warna dasar ngengat ini adalah coklat-jingga dengan dua garis keabuan pada bagian atas, yang satu tidak beraturan sementara yang lainnya adalah garis beraturan. Dapat menghasilkan telur sebanyak 200-325 butir. Ngengat aktif malam hari dan tertarik pada cahaya lampu. Ngengat betina berukuran lebih besar dan berwarna lebih tua dari yang jantan. Ngengat bukan penerbang yang baik dan berumur sekitar 1 - 5 hari. Ngengat betina mulai bertelur pada hari kedua. Ngengat betina yang tidak kawin juga bertelur meskipun tidak menetas. Siklus hidup dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara dengan rata-rata 63 - 77 hari.
Telur
Telur diletakkan oleh induknya secara teratur, disusun rapi pada pinggiran daun sebelah bawah atau tangkai daun dalam jumlah yang banyak. Jumlah telur mencapai 200 - 325 butir per induk dengan fertilitas tinggi. Telur yang baru diletakkan berwarna putih agak kuning muda kemudian menjadi kelabu. Bentuk telur bulat agak gepeng yang mempunyai noda atau titik hitam pada salah satu ujungnya. Telur menetas setelah 7 hari. Stadia telur sekitar 8 – 11 hari.
Ulat
Ulat yang baru menetas berwarna kuning muda, bergerombol makan kulit telur. Ulat yang lebih besar makan seluruh bagian daun kecuali tulang daun, sehingga tanaman akan gundul. Pada pertumbuhan penuh (instar 5) ulat mempunyai strip merah dan bintik-bintik putih yang penuh dengan bulu-bulu halus berwarna putih. Bagian kepala dan perut sebelah bawah serta ujung abdomen berwarna merah. Pada pertumbuhan penuh ukuran ulat dapat mencapai 5 - 7 cm. Stadia ulat sekitar 25 - 35 hari. Menjelang berkepompong ulat tidak makan, bergerombol dan berbondong-bondong mencari tempat yang cocok untuk berkepompong.
Kepompong
Kepompong berbentuk jala yang rapat berwarna kuning emas. Pupa berwarna coklat. Dalam keadaan normal stadia pupa antara 21 - 26 hari, tetapi apabila keadaan tidak menguntungkan dapat sampai 2 - 3 bulan.
5.    Cyana sp.
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom     : Animalia   
Phylum        : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Family        : Arctiidae
Genus        : Cyana
Species      : Cyana sp.

Ngengat ini didapat melalui light trap yang dilakukan pada malam hari, karena ngengat aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya. Cyana sp. memiliki ukuran yang kecil, dengan rentang sayap jantan berbeda dangan betina. Jantan memiliki rentang sayap sepanjang 23-25 mm, sedangkan pada betina memiliki rentangan sayap sepanjang 30-35 mm. Serangga ini sangat mudah dibedakan dengan adanya warna putih pada kepala, toraks, dan sayap, serta pita jingga pada toraks dan sayap. Terdiri dari banyak jenis, beberapa memiliki bintik-bintik jingga pada sayap dan yang lainnya bintik-bintik hitam. Habitatnya ditemukan di hutan dan tertarik pada cahaya.
6.     Neptis hylas
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Family        : Nymphalidae
Genus        : Neptis
Species      : Neptis hylas
Kupu-kupu ini memiliki nama lain, yaitu The Common Plain Sailor. Memiliki ukuran sedang, rentang sayapnya 45-50 mm. Jantan dan betina serupa dan tubuh bagian atas serta bawah sangat mirip namun lebih gelap di bagian atas, dasar berwarna coklat-hitam gelap dengan garis-garis dan pita khas berwarna putih.
Habitat serangga ini yaitu di daerah hutan dan dapat dijumpai pada daerah tinggi namun juga dapat dijumpai di sepanjang jalan setapak atau di pinggir hutan.
7.    Mycalesis sp.
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Family         : Nymphalidae
Genus         : Mycalesis
Species       : Mycalesis sp.

8.    Graphium sarpedon
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Family        : Papilionidae
Genus        : Graphium
Species      : Graphium sarpedon
Kupu-kupu ini ditemukan pada saat pengambilan data di Desa Karang Sari Barat. Jenis ini sangat jarang ditemui pada saat itu. Serangga ini memiliki ketertarikan terhadap warna biru.
Serangga ini memiliki sayap dengan warna yang sangat menarik, yaitu biru kehijauan (turquoise). Sayap dengan warna dasar coklat tua.

9.    Eurema sp.
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Family         : Pieridae
Genus         : Eurema
Species       : Eurema sp.

Kupu-kupu ini banyak ditemukan pada tempat pertama dalam mengambil data, yaitu pada daerah sekitar Kali Rambut, Desa Jatinegara. Kupu-kupu ini memiliki sayap dengan warna dasar kuning dengan tepi sayap berwarna coklat tua. Ukuran kupu-kupu ini sedang dengan rentang sayap 12-24 mm. Jantan dan betina serupa. Kupu-kupu ini terlihat sangat aktif terbang di daerah jalan setapak pada semak-semak.
Terbanyak kedua dari serangga yang ditemukan adalah dari Ordo Hemiptera.
Gambar disamping ini merupakan Leptocarisa sp. Termasuk kedalam ordo Hemiptera dengan family Alydidae.
Serangga ini memiliki ukuran tubuh yang sedang, yaitu panjangnya 13-17 mm. Jantan dan betina serupa. Jenis yang paling sering dijumpai adalah memiliki badan berwarna kuning kecoklatan dengan sayap yang lebih gelap dan antenna coklat dan hitam, atau tubuh berwarna kuning-hijau dengan sayap berwarna hitam-coklat dan antenna hitam dan krem. Tidak memiliki duri, bentuk kepala kurang lebih segitiga. Kaki serangga ini panjang dan tubuhnya ramping.
Gambar disamping ini juga merupakan serangga yang masuk kedalam ordo Hemiptera. Kepik ini atau disebut firebugs termasuk ke dalam genus Dysdercus, memiliki ukuran tubuh yang kecil. Jantan dan betinanya mirip, namun kadangkala betina dapat dibedakan dari abdomen yang lebih besar karena penuh dengan telur. Kepala dan mata kemerahan dengan sepasang antenna hitam, toraks hitam, putih, dan jingga. Abdomen kepik ini berwarna jingga dengan tanda hitam dan putih dibagian bawah. Elytra berwarna jingga dengan membrane hitam (di ujung elytra).
Kepik ini terdapat diantara vegetasi yang lebat atau pada tumbuhan soliter di daerah terbuka di hutan, atau di sepanjang jalan setapak. Kepik ini menghisap cairan dan menusuk cairan tumbuhan dengan ‘rostrum’, kepik ini juga menghisap cairan serangga yang masih hidup maupun yang telah mati.
Suracarta sp.
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum      : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo         : Hemiptera
Family        : Cercopidae
Genus         : Suracarta
Species       : Suracarta sp.
Serangga ini ditemukan pada sungai di sekitar Desa Karang Sari. Pada saat itu, serangga ini mengeluarkan cairan dari tubuhnya. Suracarta sp. memiliki ukuran sedang, panjang 25-30 mm. Jantan dan betina mirip. Kepalanya berwarna jingga, lebih kecil dibandingkan besar tubuhnya. Sepasang sayap pertama menutupi abdomen, berwarna hitan-coklat gelap. Kaki atau tungkainya berwarna jingga. Pada Suracarta fasciata , terdapat corak keputihan pada bagian atasnya, namun pada serangga yang ditemukan tidak memiliki corak tersebut, namun hanya polos biasa.
Nimfa hidup pada tumbuhan di dalam hutan. Dewasa ditemui pada pepohonan atau diatas daun-daun yang besar di dalam hutan. Serangga ini, tahap nimfa ataupun dewasa menghisap cairan untuk makan. Umumnya hidup pada percabangan pohon dan dilindungi  semacam cairan yang berwarna putih seperti busa yang seringkali disangka sebagai telur katak pohon.
Serangga di gambar samping ini merupakan serangga air. Biasanya disebut anggang-anggang. Termasuk ke dalam ordo Hemiptera dengan family Gerridae. Namun belum diketahui pasti nama spesies dari serangga ini.
Seperti halnya ordo Hemiptera, ordo dari Odonata juga ditemukan enam jenis capung, namun hanya lima yang dapat teridentifikasi.
1.    Orthetrum sabina
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Odonata
Family        : Libellulidae
Genus        : Orthetrum
Species      : Orthetrum sabina

Ukuran sedang, panjang abdomen 30-36 mm. Jantan dan betina serupa. Toraks hijau-kuning dengan garis-garis hitam. Abdomen sangat menonjol dibagian bawah sebagai ciri khas jenis ini, di sepanjang abdomen terdapat pola hitam yang khas. Capung ini sangat melimpah dimana-mana. Jenis ini merupakan salah satu jenis capung yang paling dikenal di Jawa dan yang paling dominan dipersawahan. Karena kemampuan beradaptasi pada musim kemarau dan musim hujan, serangga ini dapat hidup di hampir semua negara. Dewasanya merupakan predator yang rakus.
Capung ini biasa disebut dengan capung tentara karena warnanya yang seperti tentara dan memiliki abdomen yang bengkak. Orthetrum sabina berkembang biak di air yang tidak mengalir atau airnya yang lambat. Karena kemampuan beradaptasi di musim kemarau dan musim hujan, serangga ini hampir hidup di semua negara, dapat di temukan pada ketinggian 2500 m dpl. Orthetrum sabina sering hinggap pada semak-semak dikelilingi kolam, danau , jalan setapak dan sungai , melintas diam-diam di atas rerumputan dan sangat harmonis dengan sekelilingnya dan mangsanya terutama berupa serangga-serangga seperti kutu, ngengat dan capung jarum.
Capung jenis ini terlihat banyak di sekitar Kali Rambut terbang dan hinggap ke rumput yang satu ke rumput yang lainnya. Capung ini termasuk capung yang mudah ditangkap dengan insect net maupun dengan tangan kosong.
2.    Pantala  flavescens
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo         : Odonata
Suborder   : Anisoptera
Family       : Libellulidae
Genus        : Pantala
Species     : Pantala  flavescens

Kecepatan terbang serangga ini mencapai 5 m/sekon. Di bagian tengah muka kepala terdapat sepasang antenna yang berfungsi sebagai alat pendeteksi lingkungan. Antenna ini mempunyai peran yang vital, yaitu sebagai alat bantu ‘navigasi’ pada saat terbang untuk menemukan mangsa atau menghindar dari pemangsa.
Capung memiliki dua pasang sayap yang transparan. Pada setiap sayap terdapt alur-alur mirip jarring yang merupakan nadi (vena) sayap untuk mendapatkan oksigen. Capung mampu menghentikan terbangnya dengan mendadak, lalu mengapung sejenak di udara, mengubah arah dan kemudian melesat dengan cepat ke arah lain. Dengan kemampuannya ini, mereka menangkap nyamuk-nyamuk atau serangga lain yang sedang terbang. Dengan cepat, capung menangkap dan mencengkeram mangsanya dengan tungkainya yang kokoh. Kemudian, mangsanya yang telah tertangkap dijepit dengan rahang-rahang yang kokoh dan kuat dan kemudian memakannya.
Seperti capung lainnya, Pantala flavescens merupakan predator. Dewasa memakan kebanyakan serangga kecil seperti nyamuk, semut, dan rayap.
Habitat nimfa capung berupa perairan seperti sawah, sungai, danau, kolam atau rawa. Dan habitat capung dewasa berada di daerah dekat perairan dan tempat terbuka.
Capung sering terlihat di daerah terbuka, terutama di kawasan perairan di mana mereka dapat berbiak dan berburu makanan. Sebagian besar capung senang hinggap pada pucuk rerumputan, pohon perdu dan lain-lain yang tumbuh di sekitar kolam, sungai atau parit. Dini hari atau sore hari capung kadang-kadang lebih mudah diamati.
Capung ini banyak ditemukan pada sungai dengan bergerombol dan ditemukan pada sekitar Kali Rambut maupun pada Sungai pada Desa Karang Sari.
3.    Neurothemis terminata
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo         : Odonata
Family        : Libellulidae
Genus        : Neurothemis
Species     : Neurothemis terminata

Neurothemis terminata memiliki tubuh berwarna merah hati yang juga hampir mewarnai seluruh sayapnya. Umumnya terbang rendah dan hinggap di atas dahan pada saat matahari bersinar cerah. Memiliki ukuran kecil sampai sedang, panjang abdomen 25-30 mm. Jantan dan betina memiliki warna berbeda. Jantan berwarna kuning tua hingga merah cerah dan sayap berwarna cerah (kuning atau merah) dengan ujung putih. Betina berwarna kuning cerah kecoklatan dan sayap transparan. Jantan maupun betina memiliki pola hitam pada abdomennya.
Capung ini dijumpai di dekat perairan pada kolam, sawah, dan sumber air maupun jalan setapak di pinggir hitan. Capung ini merupakan pemangsa serangga lainnya seperti lalat, belalang, dan kupu-kupu yang ditangkap ketika terbang dan memakannya dengan sangat rakus.
4.    Diplacodes trivialis
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo          : Odonata
Family        : Libellulidae
Genus         : Diplacodes
Species       : Diplacodes trivialis
Memiliki ukuran yang kecil, panjang abdomen 19-22 mm. Warna dari capung jantan dan betina muda hamper sama, namun jantan dewasa berbeda, jantan memiliki toraks dan abdomen biru pucat dengan tanda hitam, sedangkan betina memiliki toraks dan abdomen kuning kehijauan dengan tanda hitam. Sayap dari capung ini transparan.
Sering dijumpai jauh dari perairan. Capung ini merupakan pemangsa serangga kecil. Senang berkembang biak pada air yang mengalir tenang dan pelan.
5.    Agronemis rubescens
Capung ini ketika ditangkap menggunakan insect net, sedang beristirahat diujung rerumputan di tempat yang rindang. Ditemukan berada di sekitar tempat yang mengalir air.
Kemudian serangga dari Ordo Orthoptera, pada pengambilan data, selama perjalanan terdapat banyak sekali belalang dari ordo Orthoptera ini.
1.    Caryanda spuria
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class          : Insecta
Ordo          : Orthoptera
Family        : Acrididae
Genus        : Caryanda
Species      : Caryanda spuria

Belalang ini banyak ditemukan pada padang rumput, tempat terbuka didalam hutan.  Memiliki ukuran sedang, panjangnya antara 13 sampai dengan 24 mm. Jantan dan betina mirip dengan tubuh hijau-kuning dan pita hitam di bagian samping, kaki kuning dan lutut biru-hijau tetapi jantan lebih terang daripada betina dan berwarna hijau pada sisi atas sedangkan pada betina, sisi atasnya berwarna coklat. Betina juga ukurannya lebih besar.
Elytra dan sayap tidak sepenuhnya berkembang ketika mereka mencapai dewasa sehingga mereka tidak dapat terbang. Serangga ini merupakan salah satu makan capung.
2.    Hierodula sp.
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum       : Arthropoda
Class         : Insecta
Ordo         : Mantodea
Family        : Mantidae
Genus        : Hierodula
Species     : Hierodula sp.
Serangga ini memiliki nama lokal yaitu belalang sentadu atau belalang sembah dan nama inggrisnya yaitu praying mantis, karena bentuk tungkai depannya yang seperti sedang berdoa. Tungkai depan mengalami modifikasi yaitu tipe tungkai raptorial.
Hierodula sp. Memiliki panjang 80-110 mm. Jantan dan betina memiliki bentuk yang serupa. Warnanya bervariasi, biasanya coklat krem atau kehijauan. Sayap dan antenanya panjang, kepala berbentuk segitiga dan mata besar.
Serangga ini memiliki gerakan yang lambat, protoraks sangat memanjang dan dapat digerakkan dan menempel pada pterothoraks. Femur depan dan tibia dilengkapi dengan duri-duri yang kuat dan tajam yang digunakan untuk menangkap mangsanya. Kepala dari serangga ini dapat bebas digerakkan, sehingga serangga ini menjadi satu-satunya yang dapat memutar kepalanya dengan leluasa.
Serangga merupakan predator yang berbahaya bagi mangsanya dan bersifat kanibal. Tubuhnya yang hijau dan kecoklatan membuat dirinya susah untuk dibedakan karena memiliki kamuflase yang cukup baik.
Hierodula sp. ini ditemukan di sebuah hutan yang sudah dibuka oleh warga sekitar dengan pencahayaan yang hampir 100%, ketika itu serangga ini sedang terbang namun terbangnya yang sangat lambat dan pendek, membuat Hierodula sp. ini mudah ditangkap menggunakan insect net.
Hal yang paling diingat pada serangga ini yaitu biasanya langsung memakan pejantan setelah melakukan perkawinan. Telur-telur serangga ini diletakkan pada ranting-ranting atau batang-batang rumput dalam kantung yang disebut ooteca, masing-masingnya mengandung 200 atau lebih telur.
Serangga dari ordo Orthoptera yang belum teridentifikasi ini berasal dari Family Gryllidae. Seperti halnya ordo Orthoptera, Coleoptera masing-masing terdapat tiga jenis yang ditemukan.
Pada ordo Coleoptera,hanya satu jenis yang teridentifikasi sampai tingkat spesies. Masing-masing kedua serangga itu berasal dari family Coccinelidae dan Dytiscidae. 
Sedangkan serangga yang teridentifikasi hingga tingkat spesies, yaitu Aspidomorpha tecta yang berasal dari family Chrysomelidae.


Berikut ini adalah ordo yang jarang ditemui ketika pengambilan data yaitu pada ordo Homoptera, hanya ditemukan satu serangga, yaitu Nephotettix sp. 
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    : Animalia   
Phylum    : Arthropoda
Class        : Insecta
Ordo        : Homoptera
Family        : Cicadellidae
Genus        : Nephotettix
Species    : Nephotettix sp.

Perkembangan wereng hijau dari telur sampai dewasa melalui 3 stadia, yaitu telur, nimfa, dan dewasa dengan metamorfosis paurometabola.
Telur
Telur wereng hijau berbentuk bulat memanjang dan agak meruncing pada kedua ujungnya. Telur yang baru diletakkan berwarna bening, kemudian menjadi putih kekuning-kuningan. Pada umur 2 atau 3 hari dua bintik merah mulai tampak pada salah satu ujungnya. Bintik tersebut lebih nyata pada umur yang lebih tua dan ini merupakan mata facet embrio (Fachruddin, 1980).
Serangga betine bertelur pada siang hari. Telur-telur diletakkan pada ibu tulang daun atau di pelepah daun. Stadia telur wereng hijau tergantung pada keadaan fisik tumbuhan terutama suhu. Masa inkubasi telur antara 6 – 10 hari. Perkembangan 29º - 35ºC, dengan masa inkubasi 6,3 - 7,3 hari. Pada suhu yang lebih rendah masa inkubasi bertambah lama. Sebagian besar telur menetas diwaktu pagi antara pukul 06.00 sampai 12.00, namun pada suhu rendah (20ºC) waktu penetasan telur tersebar dari pagi sampai sore hati (Gallagher, 1991).

Nimfa
Nimfa N. virescens terdiri atas 5 instar yang berlangsung keseluruhannya selama 13-18 hari. Nimfa muda berwarna putih kekuningan. Setelah berganti kulit warnanya menjadi kuning atau hijau kekuningan hingga hijau terang. Setiap kali akan berganti kulit nimfa tidak aktif dan tetap pada tempatnya. Nimfa dari telur yang menetas akan segera bergerak menuju ke bagian atas tanaman dan berkumpul pada bagian bawah daun tua. Pada instar ke-2 dan seterusnya nimfa-nimfa tersebut merata pada daun padi. Pada tanaman yang layu nimfa berkumpul pada bagian pangkal pelepah daun (Hibino, 1987).
Imago
Wereng hijau yang baru menjadi dewasa berwarna kekuning-kuningan. Warna tersebut secara bertahap berubah menjadi hijau kekuning-kuningan yang akhirnya berubah menjadi hijau dalam waktu ± 3 jam. Wereng hijau menjadi dewasa pada waktu pagi. Imago jantan dan betina dapat hidup sampai 20 hari. Imago wereng hijau mempunyai tanda pada sayap bagian bawah yang lebih hitam dibanding dengan yang lain. Wereng hijau betina dapat menghasilkan telur sampai 300 butir. Produksi telur wereng hijau yang tertinggi terjadi pada suhu antara 29º- 33º C. Pada suhu 20º C imago betina mati sebelum bertelur, sedangkan pada suhu 35º C produksi telur rata-rata rendah karena masa imago leih pendek pada suhu itu (Fachruddin, 1980).
Ordo terakhir yang sangat jarang ditemukan karena kepandaiannya untuk melakukan kamuflase yaitu pada ordo Phasmida. Ordo ini terkenal dengan kamuflasenya yang menyerupai tongkat atau pun daun. Serangga yang ditemukan ketika di Desa Karang Sari ini memiliki kamuflase mirip dengan tongkat, atau sering kali disebut dengan walking stick atau serangga tongkat. Jenis yang ditemukan adalah Lomachus sp.
Serangga ini ada yang memasukkannya kedalam ordo Orthoptera, namun sebenarnya serangga ini sudah dipisahkan dan masuk ke dalam ordo Phasmida.
Memiliki tubuh yang sangat ramping, berukuran sedang, dengan panjang antara 80 hingga 120 mm. Jantan dan betinanya serupa. Biasanya berwarna kecoklatan tetapi ada beberapa jenis yang berwarna hijau. Toraks, abdomen, antenna, dan kaki panjang serta tidak bersayap.
Serangga ini memiliki jantan yang sangat jarang, sehingga melakukan parthenogenesis. Bentuknya menyerupai ranting kering. Dapat melakukan regenerasi apabila salah satu kakinya patah.
Dari pengambilan data dan diidentifikasikan, serangga pada kedua tempat yaitu pada daerah sekitar Kali Rambut, Desa jatinegara dan Desa Karang Sari Barat memperlihatkan keanekaragaman yang berlimpah pada ordo Lepidoptera. Kondisi lingkungan yang sangat mendukung perkembangbiakan kupu-kupu dan ngengat membuat ordo ini memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi dibandingkan ordo yang lainnya.
Sedangkan pada salah satu ordo, yaitu ordo Phasmida, hanya ditemukan satu jenis serangga dan sepertinya hanya Lomachus sp. ini yang didapatkan pada kelompok kami. Hal ini mungkin terjadi karena kepandaian ordo ini dalam melakukan kamuflase, sehingga susah untuk diketahui keberadaannya. Dan seperti yang diketahui, spesies ini sangat jarang dijumpai jantannya, sehingga dilakukanlah parthenogenesis.

KESIMPULAN
Pada pengambilan data di sekitar Kali Rambut dan desa Karang Sari Barat ditemukan serangga dari ordo: Lepidoptera, Hemiptera, Homoptera, Hymenoptera, Odonata, Diptera, Orthoptera, Phasmida, dan Coleoptera. Serangga yang paling banyak ditemukan berasal dari ordo Lepidoptera yaitu sebanyak 10 jenis dan family yang paling banyak yaitu dari Nymphalidae. Disusul oleh Odonata dan Hemiptera, masing-masing ditemukan lima spesies. Family dari Odonata terbanyak berasal dari Libellulidae. Sedangkan serangga yang paling sedikit ditemukan dari ordo Phasmida, yaitu hanya satu spesies.

DAFTAR PUSTAKA
Borror,D.J., C.A. Triplehorn dan N.F. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran.
Hoeve, W. Van, 1996. Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna Serangga. PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarta.
Peggie, Djunijanti dan Mohammad Amir. Practical Guide to the Butterflies of Bogor Botanic Garden. LIPI. Bogor.
Putra Nugroho Susetya. 1994. Serangga di Sekitar Kita. Kanisius. Yogyakarta.
Redaksi Ensiklopedia Indonesia. 1989. Redaksi Ensiklopedia Indonesia seri fauna. Pt. Intermasa. Jakarta.
Sola, Eugenio, Ika K. Widyaningrum dan Sri Mulyati. 2005. A Photographic Guide to the Common Insect of Gunung Halimun-Salak National Park. VSO, JICA, TNGHS. Bogor.
Susanti, S. 1998. Mengenal Capung. Puslitbang Biologi - LIPI. Bogor.
Tim kanisius. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kanisius. Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar