Senin, 23 Januari 2012

Tradisi Bau Nyale Masyarakat Pesisir Suku Sasak


Tradisi Bau Nyale Masyarakat Pesisir Suku Sasak

Abstract
Bau Nyale is a tradition of Sasak tribe of coastal communities from Nusa Tenggara Barat, which until now is still preserved. This tradition was carried out by capturing Nyale, which is a kind of marine worms belonging to class Polychaeta from the phylum Annelids. Nyale considered by Sasak tribe as the incarnation of Princess Mandalika who threw herself into the sea for the interests of the people. Bau Nyale done every month from February to March.

Keynote: Bau Nyale, NTB, Princess Mandalika, Sasak tribe

Abstrak
Bau Nyale merupakan tradisi masyarakat pesisir suku Sasak dari Nusa Tenggara Barat yang hingga kini masih dilestarikan. Tradisi ini dilakukan dengan menangkap nyale, yaitu sejenis cacing laut yang termasuk kedalam kelas Polichaeta dari filum Annelida. Nyale dianggap suku Sasak sebagai penjelmaan Putri Mandalika yang menceburkan dirinya ke laut untuk kepentingan rakyat banyak. Bau Nyale dilakukan setiap bulan Febuari-Maret.

Kata kunci: Bau nyale, NTB, Putri Mandalika, suku sasak.

PEMBAHASAN
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau. Setiap pulau yang ada ditempati oleh suku yang berbeda. Perbedaan suku yang ada Indonesia sangat beragam dengan kebudayaan yang beragam pula. Kebudayaan menjadi sesuatu yang sangat melekat dari setiap suku sehingga menjadi identitas diri dari suku tersebut, seperti kebudayaan masyarakat pesisir dalam pemanfaatan sumber daya alam pesisir dan lautan. Suku yang berbeda memiliki kebudayaan dan tradisi yang berbeda pula dalam pemanfaatan sumber daya alam pesisir dan lautan.
Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam pesisir dan lautan pada hakekatnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia atau masyarakat di sekitar kawasan pesisir agar pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kelestarian lingkungan (Supriharyono dalam Stanis et al.,:2007, 7). Tradisi masyarakat pesisir dalam pemanfaatan sumber daya alam pesisir dan lautan salah satunya, yaitu tradisi Bau Nyale pada masyarakat pesisir suku sasak.
Bau Nyale merupakan tradisi suku sasak yang tinggal di Lombok Selatan sepanjang pantai selatan pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kata sasak itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta, sahsaka. Sah artinya pergi, saka artinya asal. Sahsaka artinya pergi meninggalkan tanah asal, dan mengumpul di pulau Lombok dengan memakai rakit bambu sebagai kendaraan (Damanik: 2008, 3).
Bau Nyale merupakan suatu tradisi menangkap nyale yang dilakukan oleh suku sasak setiap setahun. Bau Nyale berasal dari bahasa sasak, yaitu dari kata Bau yang berarti menangkap dan Nyale yang berarti sejenis cacing laut. Nyale termasuk kedalam kelas Polichaeta dari filum Annelida. Polichaeta adalah cacing bersegmen yang memiliki banyak rambut (secara etimologis, poly berarti banyak; chaeta berarti struktur serupa rambut) di sekujur tubuhnya (Pamungkas: 2009, 36). Polichaeta biasanya hidup menempel pada sedimen atau menempel pada permukaan keras (bentik), sedangkan larva bersifat planktonik (Dean: 2008, 11).
Nyale ini ditangkap oleh suku sasak untuk dikonsumsi saat swarming. Fenomena swarming merupakan peristiwa ketika cacing laut dari jenis tertentu berkerumun dalam jumlah melimpah di sekitar permukaan air untuk melakukan perkawinan secara eksternal (Pamungkas: 2009a, 1). Polichaeta muncul ke permukaan air pada saat-saat tertentu (menjelang waktu shubuh hingga fajar menyingsing Lombok dan Sumba; menjelang waktru maghrib hingga sekita 2-3 jam setelah di daerah Maluku). (Pamungkas: 2009b, 1). Polichaeta berenang ke permukaan air laut untuk melepaskan telur dan spermanya. Pada saat itulah masyarakat menangkap cacing laut tersebut dan hingga kini menjadi sebuah tradisi dari suku sasak.
Selain di Lombok, fenomena swarming terjadi pada kawasan Indonesia Timur lain, yaitu perairan Maluku dan Sumba. Apabila di Lombok, cacing laut Polichaeta disebut sebagai Nyale, di daerah Maluku dan Sumba, cacing laut ini disebut dengan nama Laor dan Palolo dengan jenis cacing yang berbeda (Tabel 1).
Tabel 1. Perbandingan swarming cacing laut Polichaeta di beberapa daerah di Indonesia Timur
Daerah Perairan
Jenis Cacing
Nama Lokal
Waktu Pemunculan
Lombok
Eunice siciliensis dan Licydice collaris
Nyale
Antara waktu shubuh hingga fajar menyingsing
Maluku
Lysidice oele dan Dendronereides heteropoda
Laor
Mulai waktu maghrib hingga 2-3 jam setelahnya.
Sumba
Eunice viridis
Palolo
Antara waktu shubuh hingga fajar menyingsing
(Sumber : Pamungkas: 2009b, 42).

Tradisi Bau Nyale diadakan setahun sekali dan dijadwalkan setiap bulan Febuari-Maret. Kegiatan tradisi ini dipusatkan di dua kabupaten, yakni Lombok Tengah, tepatnya di Desa Kuta dan Seger, serta Lombok Timur, tepatnya di Desa Kaliantan dan Jerowaru (Fatah: 2011, 3). Alat yang digunakan untuk menangkap nyale adalah alat penangkap (jaring) dan wadah. Untuk menangkap nyale dapat juga menggunakan tangan. Untuk mendapatkan nyale yang lebih banyak dapat juga menggunakan sampan. Dengan sampan maka dapat menangkap nyale sampai jauh ketengah. Bagi mereka yang datang dari jauh harus membawa bekal, karena menangkap nyale membutuhkan waktu sekurang-kurangnya satu malam (Damanik: 2008, 8).

Gambar 1. Seorang laki-laki menunjukan 'Nyale' tangkapannya usai melakukan tradisi 'Bau Nyale' (Subaidi, 2010).

Tradisi ini merupakan suatu kejadian yang dikaitkan dengan budaya. Konon, menurut kepercayaan sebagian masyarakat Lombok, ada seorang putri bernama Putri Mandalika yang karena kecantikannya banyak raja ingin mempersuntingnya menjadi permausuri. Putri Mandalika tidak bisa menentukan pilihan. Jika ia hanya memilih satu orang, akan terjadi peperangan. Dan karena putri arif dan bijak ini tidak menghendaki terjadinya peperangan karena rakyat juga yang akan menjadi korbannya. Ia menceburkan diri ke laut sambil berharap jelmaan dirinya bisa dimiliki banyak orang. Diyakini Putri Mandalika lah yang menjelma menjadi cacing laut berwarna-warni. Penjelmaan Putri Mandalika inilah yang oleh masyarakat Lombok dinamakan nyale (Sadrach dan Ayudya: 2002, 68).
Upacara penangkapan nyale dapat dibedakan menjadi dua yaitu: dilihat dari waktu penangkapannya dan dilihat dari bulan keluarnya. Dilihat dari waktu penangkapannya, dapat dibedakan atas “jelo bojag” (hari percobaan) dan “jelo tumpah” (hari keluarnya). Masing-masing jatuh pada tanggal 19 dan tanggal 20 bulan kesepuluh (sekitar bulan maret). Bulan keluarnya nyale, disebut “nyale tunggak” (Bahasa Indonesia, nyale pokok) dan ”nyale poto” (Bahasa Indonesia; nyale ujung/nyale akhir. Nyale tunggak adalah nyale yang keluar pada tanggal 19 dan 20 bulan kesepuluh, dan nyale poto adalah nyale yang keluar pada tanggal 19 dan 20 bulan kesebelas. Sesuai dengan namanya, kebanyakan nyale keluar pada waktu nyale tunggak. Maka tak heran kalau kebanyakan masyarakat menangkap nyale pada bulan kesepuluh (Damanik: 2008, 9).

Gambar 2. Ribuan warga kembali kepinggiran pantai usai melakukan tradisi 'Bau Nyale' (Subaidi, 2010).

Pada saat penangkapan Nyale, penduduk akan menyorotkan senter ke arah perairan yang diyakini bisa menarik Nyale ke arah tepi perairan. Secara ilmiah, dapat dijelaskan bahwa cahaya merupakan unsur penarik kehadiran cacing ini karena bagian epitoke dari cacing laut Polichaeta bersifat fototropik positif (Pamungkas: 2009b, 39). Selain itu, penduduk akan berteriak semaunya seperti “jabut jantar bulum pepeq’n edara eberu”. Menurut kepercayan mereka, hal tersebut merangsang nyale supaya lebih banyak keluar dari lubangnya. Hal tersebut sesuai dengan legenda putri Eberu, yang menjelma jadi Nyale (Damanik: 2008, 10).
Perayaan Bau Nyale dilakukan untuk mengenang dan merayakan peristiwa putri Mandalika yang menceburkan dirinya untuk kepentingan rakyat banyak. Namun makna tersebut telah sedikit bergeser dari makna ”enkulturasi”. Kaum muda-mudi yang merayakan pesta rakyat itu di masa lampau dengan diwarnai api unggun dan dikelilingi para pemmuda-pemudi yang didampingi beberapa orangtua mereka. Duduk mengelilingi api unggun disertai berbalas pantun (dalam bahasa Sasak disebut bekayaq) yang berisi sekitar perkenalan, merajuk isi hati masing-masing atau ungkapan perpisahan.Di kalangan suami istri pun merupakan momen nostalgia bersama anak-anak mereka dalam suasana kegembiraan. Namun sekarang tradisi Bau Nyale mulai bergeser dari keaslian maknanya dan direkayasa untuk kepentingan pariwisata (matanews.com, 2009).




DAFTAR PUSTAKA

Daminik, N.G. 2008. Lombok No Bau Nyale No Dentou. Kertas Karya. Program Studi Nahasa Jepang Universitas Sumatera Utara.
Dean, H.K. 2008. The Use of Polychaetes (Annelida) as Indicator species of Marine Pollution: a Review. Rev. Biol. Trop Int J. Trop. Biol. ISSN-0034-7744) 36 (Suppl.4): 11-38.
Fatah, L.A. 2011. Travelicious Lombok. B-First: Yogyakarta.
Matanews.com. Wisata Tangkap Nyale. 2009. http://matanews.com/2009/02/17/potensi-wisata-tangkap-nyale/ diunduh tanggal 24 Desember pukul 22:28 WIB.
Pamungkas, J. 2009a. Pengamatan Jenis Cacing Laor (Annelida, Polychaeta) di Perairan Desa Latuhalat Pulau Ambon dan Aspek Reproduksinya. Jurnal TRITON 5 (2): 1-10.
                . 2009b. Swarming Cacing Laut Polikhaeta (Annelida) di Indonesia. Oseana, Vol. XXXIV (3): 35-44.
Sadrach, A.R.Y dan A. Ayudya. Liburan Akhir Pekan di Pulau Bali dan Nusra. Jakarta: PT Gramedia.
Stanis, S., Supriharyono, dan N.B. Azis. 2007. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pasir Laut 2 (2) : 67-82.
Subaidi, A. 2010. Tradisi Bau Nyale. http://www.mediaindonesia.com/foto/2947/Tradisi-Bau-Nyale di unduh tanggal 26 Desember pukul 19 :32 WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar